About Me

My photo
Gadis Jawa. Melankolis. Romantis. Dinamis. Kadang sedikit manis.

Followers

Thursday, December 01, 2016

Hijrah Pertama Saya: Tata Rias Halal

Halo, para penikmat blog. Kali ini saya akan membagikan sedikit pengalaman saya, yang sebenarnya masih berkaitan dengan “Thailand Selatan”. Jangan bosan, ya. Hehe. Entah kenapa, cerita saya selama lima bulan di sana tidak akan ada habisnya kalau diulas. Baiklah, langsung saja ke topik kali ini, yaitu...”label halal”.

Sebelumnya, saya punya aturan di tulisan saya kali ini. Berhubung blog ini bukan karya ilmiah dan ada ungkapan juga kalau “my blog, my rules”, kali ini saya akan menggunakan pengalaman dan pemikiran saya sebagai bukti. Saya juga mohon tidak ‘perang ayat’ dalam menanggapi tulisan saya kali ini, karena tujuan saya bukan mempengaruhi, mengajak, melarang, atau me- me- yang lain. Saya juga tidak didorong oleh pihak mana pun untuk menulis ini. Saya juga tidak disponsori oleh produk mana pun, karena saya bukan artis, hehe. Saya hanya ingin membagikan pikiran saya. Nikmati saja dan tinggalkan bila tulisan ini dirasa kurang menarik, hehe. Baiklah, cusssssssssss.

Selama saya di Thailand, saya harus mengubah cara saya dalam mengonsumsi apa pun. Mengapa? Karena di sana bukanlah negara yang mayoritas penduduknya muslim, jadi makanan, produk kecantikan, dan barang-barang lainnya tidak semuanya mempunyai label halal. Kalau di sini, kita masuk ke toko serba ada seperti Alfamart, Indomaret, Giant, dll. pasti langsung comot saja, tanpa lihat dulu ada label halalnya atau tidak. Pun, saat masuk ke kafe, ke food court, ke warung sekali pun, kita langsung masuk saja tanpa mempertimbangkan halal tidaknya makanan yang dijual. Kalau toh mempertimbangkan, mentok-mentok cuma mempertimbangkan “Ada babinya ngga, ya?”.

Tapi, kalau di sana, tiap masuk ke Seven Eleven (toko serba ada yang ada di sana), saya harus membolak-balik tiap produk yang saya beli. Memastikan barang tersebut bisa dikonsumsi oleh muslim atau tidak. Belum lagi, tiap mencari makan di kedai, saya harus memastikan kedai tersebut memasang tulisan halal, Assalamualaikum, Bismillah, dan sebagainya. Kalau tidak, biasanya yang memasak memakai peci, kerudung, atau berbahasa Melayu. Baca tulisan kakak tingkat saya, yang juga sempat tinggal di Thailand Selatan di program yang sama dengan saya, tentang berburu halal di Thailand Selatan, di sini.

Selama di sana, hampir dipastikan saya selalu makan makanan halal, kosmetik yang saya kenakan pun sengaja cari yang halal. Saya juga memakai pakaian yang syar’i, karena memang muslim di sana sedikit berbeda dalam hal pakaian daripada Indonesia yang masih memaklumi kebebasan berekspresi dalam hal berpakaian. Di sana saya sendirian berjuang dan hampir setiap kesepian, saya tidak bisa curhat dengan siapa-siapa lagi selain Allah, karena memang sulit sekali untuk sekadar mengeluh jarak jauh dengan orang-orang terdekat saya. Saya di sana lebih jauh dari maksiat daripada di sini. Di sana hubungan antara laki-laki dan perempuan benar-benar terjaga, bahkan sekadar salaman saja tidak lazim. Saya seperti mencuci diri selama lima bulan di sana.

Entah mengapa, saat di sana, setiap kali saya berdoa atau hanya sekadar berkeinginan dalam hati, doa dan keinginan saya terkabul dalam waktu yang tidak lama. Bahkan, rata-rata doa itu terkabul di hari yang sama. Contoh kecilnya, saya ingin makan kue bernama ‘Angkok’ untuk berbuka puasa. Saya pernah mencoba pada saat awal datang di Thailand. Saya hanya berpikir saja, tidak meminta pada Allah. Tiba-tiba menjelang berbuka, guru pamong saya membawakan Angkok asal banda Nara yang terkenal dan rasanya memang sangat enak.

Contoh lain, di awal gaji pertama saya di sana, saya sempat tidak bisa mengatur keuangan karena saya masih bingung setiap kali berbelanja, apakah itu termasuk mahal atau murah (karena perbedaan kurs yang membuat saya belum terbiasa). Akibatnya, uang saya menipis dan saya takut sekali, karena saya gengsi juga kalau mau minta dikirimi uang untuk makan dari keluarga di Indonesia. Saya lalu menulis semua pengeluaran dan pemasukan dan berharap ada uang sisa untuk berlebaran di konsulat (sekalian membeli oleh-oleh). Namun, ternyata uang saya tidak sisa banyak. Tak lama kemudian, datang dua orang yang memberi saya sedekah. Dia berkata, ini untuk sedekah musafir seperti saya. Saya langsung terharu. Padahal saya tidak meminta uang kepada Allah. Saya hanya minta diberi kecerdasan dalam mengatur keuangan. Itu saja.

Contoh lain lagi, saya sempat sangat penat dan ingin jalan-jalan. Saya hanya memendam di dalam hati dan curhat kepada teman-teman satu universitas yang ada di grup Line. Tiba-tiba datang pesan singkat dari salah satu guru yang mengajak saya untuk jalan-jalan ke luar provinsi. Tiga contoh di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak pengalaman tidak terduga yang saya dapatkan di sana. Saya hanya bisa bilang “Mashaa Allah, mashaa Allah”.

Saya lalu berpikir, mengapa ya di sana setiap kali saya berdoa, bahkan hanya sekadar berkeinginan, semuanya terkabul begitu saja tanpa syarat? Mengapa bila saya di Indonesia, rasanya untuk dikabulkan satu keinginan kecil saja sangat susah? Bahkan, untuk sekadar mencari buku di tumpukan rak perpustakaan saat mengerjakan skripsi saja saya sampai pusing dan tidak ketemu-ketemu? Saya lalu berpikir lagi, jawabannya mungkin sederhana. Di sini saya banyak bermaksiat, sedangkan di sana, saya tidak.

Ya. Saya introspeksi diri kemudian. Di sini, saya makan asal makan. Ada makanan yang sedang tren, misalnya mie ala Korea yang tidak ada label halalnya saja langsung saya coba. Bedak yang saya gunakan, eyeliner, mascara, dan sebagainya adalah produk yang terkenal, namun tidak berlabel halal. Di sini, pakaian saya tidak sesuai syariat. Saya memakai celana jeans, baju ketat, dan kerudung yang tidak menutup dada. Di sini, saya pacaran. Di sini...yah...saya jauh dari kata taat. Itulah sebabnya, doa saya sulit terkabul. Allah tidak ridha dengan apa yang saya lakukan.

Untuk mengubah itu semua, bukanlah hal yang mudah. Bila di sana, saya sendirian. Saya orang asing, mau tidak mau saya harus mematuhi kaidah di mana bumi yang saya pijak. Sedangkan di sini, menjadi muslim yang baik adalah tantangan yang luar biasa sulit. Itu yang saya rasakan. Padahal, Indonesia merupakan negara yang penduduk muslimnya sangat banyak. Namun, karena banyak itulah, atas nama hak asasi, semua dimaklumi.

Jujur, bila untuk mengubah cara berpakaian, saya tidak bisa ekstrem langsung berubah memakai jubah panjang, memakai kerudung besar...tidak bisa dipungkiri, saya hanyalah seonggok makhluk yang masih banyak beralasan. Saya mengusahakan bila ada rok, saya memakai rok. Saya mulai perlahan meninggalkan celana. Namun, terkadang bila saya sudah bingung mencocokkan baju, saya langsung comot saja celana dan atasan biasa. Kerudung pun, saya masih berusaha perlahan tidak lagi pakai kerudung pendek. Namun, kadang saya juga masih ingin memakai kerudung pendek. Ya...susah memang. Namun saya akan berusaha pelan-pelan. Saya tidak ingin mengejek siapa pun dalam hal berpakaian. Karena, saya sendiri belum sempurna dan masih labil. Tapi, tidak ada yang menjamin kan seseorang yang tidak sempurna hari ini, bisa menyempurnakan dirinya kelak? Wallahualam.

Kembali ke topik label halal. Untuk urusan yang lain, saya pelan-pelan berbenah. Namun, ada urusan yang bisa segera saya benahi, yaitu...masalah label halal. Jadi begini. Jujur lagi, saya kurang motivasi dalam mengerjakan skripsi saya. Saya mulai memasuki masa-masa malas di mana saya tidak betah berlama-lama mengerjakan skripsi karena.....................ya, saya malas. Hehe. Maka dari itu, saya mencari cara agar saya semangat. Saya menyemangati diri sendiri dengan menjanjikan diri sendiri bahwa, “Dina, semakin cepat skripsi kamu selesai, semakin cepat kamu dilamar, haha. Dina, semakin cepat skripsi kamu selesai, semakin cepat wisuda, katanya mau dandan sendiri waktu wisuda?”. Nah, akhirnya saya mulai belajar dandan lagi setelah sekian lama saya tidak dandan.

Saya belajar dandan dari saat saya ikut paduan suara sampai duta-dutaan. Dari situ, saya mulai mengenal produk kosmetik beraneka ragam dan saya sudah mencoba berbagai merk kosmetik dari mulai yang halal, diragukan, bahkan haram. Mulai dari sini, saya menanggalkan kosmetik saya yang jelas tidak halal. Saya mencari dulu di internet tentang info produk kosmetik apa saja yang halal di Indonesia, di sini. Sejak saat itu, saya mulai follow beberapa akun kosmetik yang halal tersebut, di antaranya Wardah, Zoya, Sariayu, Mazaya, Caring Colours, dan Mineral Botanica. Yang sudah saya coba hanya Wardah, Caring Colours, dan Sariayu saja. Untuk yang lainnya, saya masih belum mencoba. Saya juga mulai aktif mencari review tentang kosmetik-kosmetik tersebut di Youtube dan beberapa blogger kecantikan di Indonesia. Saya mencoba dandan seminggu sekali. Kadang, saya juga berpikir, kok hasilnya nggak sebagus produk impor yang mahal, ya...lalu kadang juga saya masih ingin memakai yang mahal-mahal, impor, dan jelas tidak halal tapi hasilnya bagus.........tapi.....saya tersadar. Ah, untuk apa. Halal nomor satu. Hasil nomor dua. Mungkin, beberapa produk tidak bisa sebagus itu karena memang ada kandungan bahan yang tidak disertakan, yang kemungkinan bahan tersebut yang tidak halal tadi. Lagian, tidak bisa dipungkiri bahwa produk kosmetik lokal belum sedahsyat produk-produk buatan negara yang memang sudah ahlinya di bidang kosmetik.

Namun, dari situlah saya berpikir. Kalau orang Indonesia terus-terusan memakai produk impor demi hasil yang bagus, lalu siapa yang akan memakai produk lokal? Kalau tidak ada yang memakai produk lokal, dari mana produk itu akan maju? Akan dapat masukan dari mana? Nah, dari situlah saya mulai memutuskan: SAYA AKAN BERUSAHA MEMAKAI PRODUK KOSMETIK YANG HALAL DAN PRODUK LOKAL. In shaa Allah.

Lalu, saya berpikir lagi. Emmmm, mungkin yang membuat hasil dandan saya kurang bagus, tidak hanya dari intensitas dan produk kosmetiknya, tapi juga dari segi alat tata riasnya. Saya mulai deh mencari info kuas-kuas tata rias yang bagus seperti apa. Saya banyak mendapatkan info merk yang bagus dari beauty vlogger dan beauty blogger. Lalu, saya sempat akan membeli produk kuas tata rias buatan Amerika. Tapi sebentar. Tiba-tiba saya iseng menulis kata kunci di Google: brush make up halal. Dan...............sampailah saya di blog salah satu beauty vlogger ini. 

Membaca tulisannya, saya seperti ditampar secara halus. Iya, ya. Kalau produk kosmetiknya saja saya pilih-pilih yang halal, kenapa kuas tata riasnya saya juga tidak mempertimbangkan dulu yang halal. Akhirnya, saya mulai mencari lagi mana yaaa produk yang HALAL DAN LOKAL. Ada dua produk yang saya temukan. Ingat, standar saya hanya HALAL DAN LOKAL, ya. Hehe. Saya menemukan produk dari Mineral Botanica dan Zoya Cosmetics. Bahkan, harga keduanya pun tidak jauh beda. Karena saya masih mahasiswa, saya beli yang paling murah dulu. Nanti yang satunya, tunggu bulan-bulan depan, hehe.

Saya akhirnya membeli produk kuas tata rias dari Mineral Botanica. Mineral Botanica memang produk kosmetik yang masih baru. Belum banyak yang mengenal dan memakainya, tapi saya akan coba. Saya mendapatkannya dari salah satu online shop  di Malang. Kalau untuk produk kosmetiknya sudah ada di beberapa toko, kalau kuasnya, saya belum mencoba mencari. Penampakannya seperti ini, nih...
Ini produk kuas tata rias dari Mineral Botanica yang saya beli. Segera saya review, ya.
Zoya Cosmetics Brush Set
Kalau yang ini contoh produknya Zoya. Saya pengen coba juga, hehe.
Sumber foto:
https://www.bukalapak.com/p/perawatan-kecantikan/makeup/aksesoris-makeup/1sbdoj-jual-zoya-cosmetics-brush-set

Oh iya, saya kebiasaan deh. Kalau menulis, suka tidak fokus dengan topik yang saya buat sendiri, haha. Jadi, intinya, ini bukan postingan yang akan me-review produk kecantikan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan berbagi informasi. Intinya, saya berniat untuk mulai mencintai produk yang halal dan lokal. Pertama, saya mencari ridha Allah, yang entah hanya Allah yang tahu, diterima atau tidaknya itu urusan saya dengan Allah (saya kok ribet ya kalau menjelaskan, haha). Kedua, saya mencintai Indonesia, saya rasa nasionalisme kita mulai meluntur. Saya bukan aktivis, bukan artis, atau siapa saja yang memberi pengaruh di Indonesia. Saya hanya seorang mahasiswa semester akhir yang berusaha untuk mencintai produk dalam negeri dimulai dari mengajak diri sendiri dulu (lhoooo katanya postingan ini ngga mempengaruhi), heheeee yaaaa pokoknya gitu! :D


Saya mulai kehilangan kecerdasan menulis, nih...sekian dulu ya tulisan ngga seberapa penting saya ini. Semoga bermanfaat walaupun sedikit. Untuk selanjutnya, saya ingin review produk-produk ini, biar menyemangati yang mau berhijrah (kalau saya tidak malas menulis, ya). Selamat malam dan selamat berpikir :p 


Monday, November 21, 2016

Alunan Kemerdekaan dari Negeri Gajah Putih

Rabu, 17 Agustus 2016


Biasa merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menjadi petugas paduan suara di kampus, kali ini saya bertugas sebagai dirijen paduan suara di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Songkhla, Thailand. Tidak hanya saya, sebagian besar petugas upacara juga berasal dari peserta program PPL/KKN Thailand Selatan.
Mengingat kami semua mempunyai kesibukan mengajar di sekolah penempatan masing-masing, latihan upacara pun sedikit sulit. Hanya bisa dilakukan saat akhir pekan. Itu pun, para petugas harus rela menempuh perjalanan jauh ke Songkhla, karena sebagian besar mengajar di Pattani, Yala, Narathiwat, dan lain-lain. Petugas paduan suara saja baru bisa latihan dengan jumlah lengkap saat tanggal 16 Agustus siang hari.
Sebelum hari-H upacara, kami melaksanakan gladi bersih terlebih dahulu dengan Bapak Konsul, Pak Triyogo Jatmiko. Pak Tri mengikuti gladi bersih dengan khidmat dan beliau mencatat semua hal yang perlu dibenahi agar lebih baik lagi saat upacara berlangsung. Beliau memberi arahan mulai dari protokol upacara, pemimpin, pembaca UUD, pembaca doa, pembaca naskah proklamasi, ajudan, pengibar bendera, hingga tim paduan suara. Beliau juga memberikan wejangan-wejangan yang sangat memotivasi kami untuk memberikan yang terbaik dalam upacara esok hari.
Upacara dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2016 pukul 9 pagi di lapangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Para peserta upacara berasal dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang bekerja, studi, maupun tinggal di wilayah selatan Thailand, para pejabat konsulat, Dharma Wanita Persatuan, serta beberapa sekolah Thailand yang memiliki kerjasama dengan Indonesia untuk turut merayakan Hari Kemerdekaan RI bersama.
Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana. Lagu yang dibawakan oleh tim paduan suara untuk persembahan atau biasa disebut aubade berjumlah tiga lagu, yakni Hari Merdeka, Tanah Air, dan Syukur. Pada saat latihan, saya dan teman-teman tidak sampai merinding. Namun, ada suasana berbeda pada saat upacara. Saya sendiri sebagai dirijen tiba-tiba merinding saat lagu Tanah Air dinyanyikan. Tanpa sadar, mata saya berkaca-kaca. Sebagai dirijen, harusnya tidak seperti itu karena bisa membuat anggota paduan suara menjadi terpancing untuk meluapkan emosi yang sama. Saya berhasil menahan tangis, tapi tidak berhasil menahan mata yang berkaca-kaca. Beberapa anggota paduan suara ikut meneteskan air mata saat menyanyikan lagu Tanah Air.

Usai upacara pun banyak yang mengatakan sempat menangis saat lagu Tanah Air dilantunkan. Hal ini mungkin karena kami semua sedang jauh dari tanah air, jauh dari keluarga, jauh dari sanak saudara di  negeri orang. Berjuang di tanah rantauan masing-masing membawa nama Indonesia memang bukan hal mudah, namun hal inilah yang membuat kami bisa bersyukur, bahwa tanah air terbaik adalah Indonesia. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71!

Displaying IMG-20160817-WA0016.jpg
Sumber: Dokumentasi Konsulat Jendral Republik Indonesia Songkhla
Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

Warna-Warni Olahraga Thailand

“See chompu cha! Cha!!”. Terdengar teriakan murid-murid menggema di lapangan bola sekolah. Selain ramai akan teriakan, lapangan sekolah penuh akan warna dan antusiasme dalam kompetisi. Ya, begitulah gambaran umum dari Sukkan Warna yang dalam bahasa Melayu berarti olahraga warna. Dalam bahasa Thailand, lazim disebut Kila See.
Kila See adalah suatu kegiatan olahraga tahunan yang rutin diadakan di setiap sekolah di Thailand, di mana semua warga sekolah (baik guru maupun siswa) dibagi menjadi beberapa kelompok warna untuk kemudian berkompetisi. Kompetisi yang diadakan beragam, bergantung masing-masing sekolah. Namun, secara umum, pasti ada kompetisi olahraga, karnaval, dan juga pemandu sorak.
Di Sekolah Wiengsuwanwittayakhom, tempat saya mengajar, ada empat kelompok warna yang akan bertanding. See chompu (warna merah jambu), see kiaw (warna hijau), see namngen (warna biru tua), dan see leuang (warna kuning). Kompetisi yang diadakan di sekolah ini beragam pula. Ada pertandingan sepakbola, pertandingan lari, pertandingan voli, lempar tagram, lomba yel-yel pemandu sorak antarwarna, kompetisi hias venue pemandu sorak, dance, dan karnaval.
Untuk mempersiapkan acara ini, sekolah sengaja memberi waktu latihan khusus selama satu jam setiap harinya selama dua bulan sebelum Kila See. Betapa Kila See adalah acara yang sangat dihargai seperti kegiatan akademik lainnya. Bahkan, jam pelajaran sengaja dipotong lima menit setiap jam pelajarannya, agar ada sisa waktu satu jam sebelum jam pulang, khusus untuk mempersiapkan Kila See.
Kila See diadakan selama satu minggu dan tidak ada kegiatan akademik selama Kila See berlangsung. Setelah tiga hari bertanding olahraga, hari keempat adalah saatnya seluruh warga sekolah berkeliling di jalanan sekitar sekolah untuk berkarnaval. Semua warga di sekitar sekolah selalu menantikan Kila See dari setiap sekolah yang berada di sekitar mereka. Ada pertunjukan seni yang ditawarkan setiap karnaval dari mulai drum band, tari, dan peragaan busana. Di salam setiap barisan warna, ada tiga kategori yang ditampilkan, yaitu Khong Cheer (rombongan pemandu sorak), Kila (atlet yang bertanding), dan Fancy (peragaan busana fantasi).

Hari kelima diisi dengan pertandingan final antarwarna dan juga ada pertandingan antarguru membela warna masing-masing. Guru-guru di sini pun sangat antusias dalam bertanding, tidak peduli akan usia mereka. Walaupun kulit menjadi belang karena udara Thailand yang begitu panas, namun semangat Kila See tetap membara sampai diumumkan siapa juara masing-masing lomba dan juga juara umum dari seluruh pertandingan. Penutupan diadakan dengan sukacita dan ditutup dengan guyuran hujan sebagai pengganti lelah selama satu minggu.

Displaying PicsArt_09-01-02.59.02.jpg


Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

Pesona Pasar Malam Pattani

Displaying PicsArt_09-19-09.58.24.jpg


Pasar malam adalah pemandangan yang sudah biasa kita temui di Indonesia. Namun, kali ini saya akan menceritakan pasar malam yang berada di salah satu provinsi di Thailand Selatan, yaitu Pattani. Pesonanya sudah sampai di penjuru Thailand Selatan. Bahkan, orang-orang yang akan belanja, sengaja menyewa hotel satu malam di dekat pasar. Pasar malam yang berada di dekat masjid besar Pattani ini terpisah antara pasar yang dimiliki orang Buddha dan orang muslim. Yang dijual pun beragam, dari mulai pakaian, makanan, hingga kebutuhan harian. Yang akan saya ceritakan adalah lima keunikan pasar malam muslim di sini.
Pertama, di sini ada beberapa kedai yang bersifat lepas pasang, hanya buka saat pasar buka saja. Namun, ada juga yang sudah menetap menjadi toko. Nah, kalau masuk ke toko-toko, jangan lupa lihat kaki karyawannya terlebih dahulu. Jika karyawannya melepas sepatu, berarti pelanggan harus masuk dengan menanggalkan sepatu. Saya yang awam, tidak tahu. Saya melihat-lihat baju-baju bagus dengan memakai sepatu masuk ke dalam. Lalu sang pemilik toko mengatakan“Eh dek, kasuk tanggal, kasuk tanggal”. Artinya, “Dek, lepas sepatu, lepas sepatu”. Saya langsung malu dan kembali ke luar.
Kedua, perhatikan harga yang dikatakan penjual. Ada beberapa penjual yang tidak menulis harga. Bila kita bertanya harga dan dia menjawab misalnya “sratos limo” atau “neng roy haa” yang dalam bahasa Indonesia berarti 105 Baht, itu hanyalah bahasa lisan. Maksud sesungguhnya adalah 150 Baht, namun mereka mengatakannya dengan disingkat. Jadi, hati-hati, ya.
Ketiga, jika tidak serius ingin membeli, jangan terlalu banyak memegang-megang baju yang dipajang. “Pegang-pegang sajo, tubek...buat punoh kain”. Maksudnya, jika hanya pegang-pegang saja, lebih baik keluar, hanya akan membuat baju jadi tercemar dan rusak saja. Ada beberapa kedai yang seperti itu. Jadi, kita harus benar-benar hati-hati membaca sinyal dari sang penjual. Namun, ada juga kedai yang sangat ramah, bahkan saya sampai dapat gratisan bros kerudung karena dia tahu saya orang Indonesia, katanya sebagai kenang-kenangan sudah pernah mampir ke kedainya.
Keempat, di sini baju produk asli Thailand dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Bahkan dengan harga sekitar Rp 120.000 saja kita bisa dapat baju yang di Indonesia seharga Rp 200.000. Namun, baju Indonesia yang diimpor ke sini, harganya bisa sampai tiga kali lipat!
Kelima, jangan datang terlalu malam, karena semua kedai akan tutup pukul 9 malam. Terkesan terlalu sore untuk tutup, memang. Namun, warga sini sengaja melakukannya karena mereka waspada akan ancaman bom yang bisa datang kapan saja di daerah konflik ini. Namun, di luar itu, para pebelanja terlihat sangat santai dan tidak peduli isu bom yang sering terjadi di berbagai tempat di Thailand Selatan. Begitulah pengalaman saya ketika berbelanja di pasar malam Pattani, surga belanjanya para muslim di selatan Thailand.. Semoga bisa menjadi referensi.

Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

Wednesday, July 20, 2016

Trip to The Pirates Park

Happy short holiday, buat saya sendiri, hehe. Awalnya saya sedikit iri dengan teman-teman satu pengabdian dengan saya yang ditempatkan di sekolah pondok. Rata-rata libur lebaran mereka 20 hari, yaitu mulai H-10 lebaran dan H+10 lebaran. Sedangkan yang ditempatkan di sekolah kerajaan seperti saya ini hanya mendapat libur tiga hari, yakni H-1 sampai H+2 lebaran saja. Kebetulan, H+3 lebaran adalah hari Sabtu, jadi total liburan lima hari saja

Tapi, Allah memberi rezeki lain. Karena di sekolah kerajaan macam sekolah saya ini tidak hanya dihuni oleh warga sekolah yang muslim, kami ikut libur kerajaan juga tiap ada hari besar Buddha. Tanggal 19 Juli 2016 adalah hari Asalha Puja 2560 dan 20 Juli 2016 adalah hari Masuk Vassa 2560. Hari itu jatuh pada hari Selasa dan Rabu. Seperti di Indonesia, di sini mengenal ‘hari kecepit’ juga, lhoh, hihi. Maka, Senin diliburkan juga. Alhasil, karena sekolah saya libur tiap Sabtu dan Minggu, saya libur deh mulai Sabtu sampai Rabu ini.

Awalnya saya bingung mau ngapain lima hari ini. Eh, ndilalah, alhamdulillah guru sekolah kami mengajak saya untuk berlibur bersama murid-murid yang tergabung bersama kelompok nasyid sekolah, bernama kumpulan Sumayah. Kami akan pergi ke sebuah waterpark di Provinsi Suratthani, 10 jam dari Narathiwat. Saya diberi briefing beberapa hari sebelumnya, mengingat lokasi cukup jauh dari sekolah kami. Kami akan bepergian selama tiga hari dua malam. Konsep bepergiannya adalah hemat tapi senang. Haha.

Yang perlu dipersiapkan adalah bantal (karena kami akan cukup lama berada di dalam mobil, selain itu, bisa untuk bantal tambahan ketika tidur di hotel), alat makan dan alat masak portable (karena kami akan memasak sarapan sendiri supaya hemat), baju ganti, baju untuk masuk air, dan tidak lupa uang saku.

Untuk para perantau seperti saya ini masalah uang saku harus sangat diperhitungkan, mengingat kami jauh dari rumah. Alhamdulillah, karena saya diajak, saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bensin mobil sekolah, sewa kamar hotel, dan tiket masuk ke waterpark. Saya hanya perlu membawa uang pribadi untuk makan di kedai atau jajan di Seven Eleven selama perjalanan. Hihi.

Tapi, tetap saya harus menginfokan agar teman-teman yang mungkin ingin mencoba wisata ke daerah Suratthani dari Narathiwat agar tahu berapa biaya yang harus disiapkan. Selama perjalanan pulang-pergi, saya melihat nominal di pompa bensin yang harus dikeluarkan untuk menghidupi mobil van Toyota Hiace milik sekolah. Yang saya lihat, selama saya melek, kami berhenti di tiga pompa bensin. Total nominal yang dikeluarkan sebesar 3000 Baht (atau sekitar Rp 1.122.000). Info saja, bensin di sini lebih mahal dari di Indonesia. Satu liternya sekitar Rp 10.000. Untuk biaya lainnya, akan saya ceritakan lebih rinci di paragraf-paragraf selanjutnya.

Lanjooot. Kami berangkat hari Minggu pukul 5 sore dari sekolah, total 15 orang yang terdiri dari guru, siswa, dan anak guru. Sebenarnya, mobil van sekolah kami berkapasitas 13 orang saja, namun tidak papalah disempilin kucil-kucil yang duduk di bawah lantai van dengan selimut dan bantal, hehe. Awal berangkat, kami mampir Seven Eleven dulu. Orang sini biasa sebut Sewen. Hati-hati kalau sudah masuk Sewen. Bisa kalap dan beli macem-macem. Termasuk saya nih. Suka banget beli daging asap pedas yang dihangatkan di microwave dan dimasukkan dalam roti tawar. Belum-belum sudah mengeluarkan uang 66 Baht atau sekitar Rp 25.000. Nominal yang lumayan banget karena selama perjalanan kami berhenti di sekitar 4-5 Sewen. Bisa dibayangkan total uang yang dikeluarkan untuk cemilan saja berapa. Haha.

Ngasuh anak dulu, ya...hahaha

Kami berhenti sebentar untuk makan dan solat jama’ maghrib-isya di sebuah pompa bensin di daerah Pattani sekitar pukul 8. Pompa bensin di sini lengkap. Hampir semua pompa bensin di 3 wilayah selatan, mempunyai fasilitas masjid (yang terpisah antara perempuan dan laki-laki), minimarket (bisa Seven Eleven, bisa juga yang lain), dan pujasera. Bahkan, beberapa pompa bensin juga berjajar pertokoan yang menjual baju, pulsa, hingga oleh-oleh.

Saya makan Nea Daeng (daging bumbu merah) seharga 40 Baht atau sekitar Rp 15.000 dan Cha Yen (es teh tarik) seharga 20 Baht atau sekitar Rp 8.000. Lebih mahal dari Nea Daeng di dekat rumah sewa saya yang hanya 35 Baht dan Cha Yen yang hanya 10 Baht. Semua menu di sini alhamdulillah halal, karena semua penjualnya muslim (ditandai dengan penjualnya berjilbab, bersongkok, atau memberi label halal pada plang nama kedai). Di 3 wilayah selatan ini tidak sulit mencari makanan halal karena mayoritas penduduknya orang muslim. Yang saya sayangkan, semua menu ditulis dalam bahasa Thai tanpa penjelasan. Hanya beberapa saja yang menyertakan gambar. Untuk saran saja, bila takut diburu waktu, pesan saja makanan yang prasmanan dan tinggal pilih. Kebetulan waktu itu saya kurang sreg sama menu yang sudah matang. Saya pesan Nea Daeng karena cari aman, walaupun lumayan lama masaknya. Saya menggunakan bahasa Melayu campur Thai sederhana karena penjual mengajak saya berbahasa Thailand. Awalnya sempat missed-com dengan penjual karena teman saya pesan makanan tapi dia batalkan dan lupa konfirmasi. Akhirnya saya yang kena sengit penjual, ditambah lagi bahasa saya kacau, ia nampak sangat tidak ramah. Hehe...untuk pelajaran saja, hati-hati saat berbahasa di negeri orang. Jangan mengeluarkan kata-kata yang berpotensi menimbulkan missed-com. Pakailah bahasa semampu kita saat bertransaksi, asal jelas dan tegas.

Usai makan, kami lanjutkan perjalanan. Berhubung sudah terlalu malam dan guru yang menyetir sudah sangat mengantuk, kami sewa hotel di daerah Nakhon Si Tammarat pukul 1 malam. Kalau untuk hotel, kebetulan saya sengaja ngga nanya ke guru sekolah harganya berapa, karena sedikit sungkan. Hehehe. Tapi, untuk gambaran saja, kami menginap di hotel berbeda selama dua malam. Yang pertama di daerah Nakhon Si Tammarat saat berangkat ini dan saat pulang di Hatyai (Songkhla). Hotel pertama memiliki satu kasur dengan kapasitas 2-3 orang, kamar mandi dalam tanpa pemanas air, TV, dan kipas angin. Sedangkan hotel kedua sedikit lebih bagus (karena terpaksa akibat suatu hal), ada kamar mandi dalam dengan pemanas air dan WC duduk, AC, TV, parkiran mobil per kamar, dan kasur yang bisa dibagi dua, jadi kapasitas 4-5 orang. Dulu, saya sempat bermalam di sebuah hotel sederhana di daerah Pattani dengan fasilitas kasur yang bisa dibagi dua, kipas angin, TV, kamar mandi dalam tanpa pemanas seharga 360 Baht per malam atau sekitar Rp 140.000. Relatif murah.

Kami hanya menyewa 3 kamar saja. Di kamar saya, saya tidur berenam. Otomatis, harus ada yang tidur di lantai dengan selimut dan bantal yang dibawa sendiri. Paginya, kami harus segera bersiap, karena jarak Nakhon ke Suratthani masih sekitar 2 jam lagi. Sebelum berangkat, kami piknik bersama di parkiran mobil. Kami masak telur dengan kompor gas portable dan sardin kaleng yang dibeli di Sewen. FYI, makanan di dalam tempat wisata relatif mahal, jadi kami membuat makanan sendiri. Sederhana tapi hangat, hihi.


Yang kayak gini ini lho yang nanti bakal dikangenin kalau udah balik ke Indonesia :'D

Setelah check out hotel, kami lanjutkan perjalanan ke Suratthani (dengan skenario mampir Sewen yang ga pernah ketinggalan). Kami sampai di waterpark pukul 10.15. Tidak terlambat karena ia baru buka pukul 10. Tempat ini bernama The Pirates Park, di daerah Wat Pradu. Harga tiket masuknya 250 Baht untuk dewasa dan 150 Baht untuk anak-anak. Sekitar Rp 95.000 dan Rp 56.000. Hampir sama dengan waterpark yang ada di Indonesia. Waktu itu, saya lihat guru sekolah saya mengeluarkan print-print-an semacam promo untuk tiket masuk. Saya juga kurang tahu, sekali lagi karena saya ditraktir, hehe.

Saya suka tempat ini menyediakan segala macam petunjuk menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Thai dan bahasa Inggris. Ini mempermudah para turis asing seperti saya yang buta aksara Thai. Namun, sayang sekali, petugas di depan tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga waktu dia ajak saya berbicara, saya hanya bisa senyum sambil mengangguk dan dia tampak bingung. Padahal saya sudah mengucapkan “Chan ma jak Indonesia, put pasa Thai mai dai”, atau saya orang Indonesia dan tidak bisa berbahasa Thai. Ternyata saat itu dia minta tangan saya distempel tanda masuk, hehehehe.

Seperti lazimnya tempat wisata, kami dilarang membawa makanan dari luar. Tapi, seperti lazimnya juga sebuah tempat wisata yang kurang ketat, kalau kami selipkan snack  di dalam tumpukan baju kami, tidak akan ketahuan, hihi. Ini salah satu trik agar tidak kelaparan setelah main wahana. Karena, harga makanan di dalam waterpark relatif mahal (untuk para perantau).

Ada banyak kolam di dalam waterpark. Ada kolam untuk anak-anak, kolam untuk seluncuran, dan kolam-kolam untuk permainan tantangan semacam acara Benteng Takeshi, mulai dari yang mudah hingga sulit. Saya adalah tipe orang yang takut air, walaupun saya Aquarian, hehe. Saya hanya berani mencoba wahana yang tidak terlalu dalam kolamnya, agar kalau saya jatuh, saya tidak tenggelam, haha. Itu pun, saat saya jatuh, saya curang, ngerepotin murid-murid buat ngangkat saya dari atas wahana, hihi.


Sumber foto: chillpainai.com

Kalau di kolam yang dalam, kami semua diwajibkan pakai pelampung. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan di sini, karena selain ada pelampung, ada life guard yang selalu memantau tiap pengunjung dan membantu para pengunjung yang terjatuh saat kurang berhasil melewati tantangan wahana. Tapi, saya memang dasarnya pengecut sama air, jadi saya pura-pura jaga anak guru yang ngga bisa berenang aja waktu itu, sama pura-pura basah biar keliatan menghargai udah ditraktir, wkwkwk.



Saya mencoba seluncuran dua kali dan coba manjat-manjat. Tapi, saya lupa kalau kaki kiri saya memang sedikit bermasalah dalam motoriknya akibat skoliosis. Sempat keram di tengah wahana dan ga bisa manjat, hahahah. Tapi seru, saya bisa teriak-teriak melepas penat :D



Oh iya, untuk tips saja, saya sempat terpeleset karena kaki saya licin bekas sunblock. Jadi, pakai sunblock-nya agak lama sebelum sampai air saja, agar tidak licin. Sunblock wajib banget dipakai di sini, karena panasnya ngga lumrah. Selain pengap, menyengat juga. Saya menghitam pulang dari sini, hihi.

Selain wahana, di sini banyak banget spot foto yang instagramable. Namun, berhubung saya tidak membawa fotografer favorit saya (baca: pacar), saya melewatkan ke-instagramable-an ini, hehe. Jadi, minta tolong sekedarnya sama murid atau salah satu guru, hihi.


Usai main air, kami harus segera mandi karena lapar sudah menyerang. Tidak kerasa kami main air sampai pukul 1 siang. Kamar mandi di sini banyak dan tidak perlu antre. Tempat rias pun disediakan, dilengkapi dengan hair dryer. Namun, lucunya, di sini tidak kami jumpai shower atau minimal gayung dan ember untuk mandi. Hanya ada WC dan penyiramnya. Saya mencari-cari apakah memang WC dan tempat mandi dipisah, ternyata tidak. Hanya ada itu saja. Terpaksa saya mandi menggunakan penyiram WC, hahaha. Butuh keahlian khusus keramas pakai penyiram WC. Mungkin, karena tempat ini baru, tempat mandi belum selesai dibuat atau bagaimana, saya juga kurang tahu :D.


Bahkan di kamar mandi pun nemu aja barang yang bisa cute kalau difoto, haha. Ga penting :D

Setelah semua beres, kami meninggalkan waterpark sekitar pukul 2 siang, untuk mencari makan siang di luar dan melanjutkan wisata ke tempat berikutnya yang akan saya ceritakan di post selanjutnya. Well, itu tadi cerita saya tentang liburan di The Pirates Park, Suratthani. Semoga sedikit info ini bermanfaat buat teman-teman yang lagi berada di Thailand Selatan atau yang mau pergi ke Thailand Selatan. Sekali lagi, happy short holiday!


Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

Monday, July 11, 2016

Long Distance Relationship

Saya sebenarnya adalah perempuan yang sudah bosan dengan urusan cinta, apalagi cinta monyet. Saya sadar usia saya sudah tidak lagi remaja, sudah 22 tahun. Saya memutuskan untuk tidak terikat dengan siapa pun setelah cukup merasakan sakitnya cinta monyet beberapa tahun lalu. 

Namun, seperti yang sudah saya ceritakan di halaman sebelumnya, saya lagi-lagi ingkar janji dengan prinsip yang saya buat sendiri. Saya kembali terikat.

Semua berjalan santai saja, saya sengaja tidak memperlakukannya sebaik yang sebelum-sebelumnya. Saya sudah bosan berlaku baik untuk seseorang yang akhirnya pergi. Saya hanya takut sakit hati atau menyakiti lagi.

Dia datang tanpa kata tanya, dia hanya membuat pernyataan. Dia ucapkan semua kelemahan dia dan ke-apa-ada-annya dia. Perkenalan kami sangat singkat sebelum akhirnya terikat. Bahkan, dia mampu mengalahkan dua orang lain yang kebetulan saat itu dekat dengan saya selama dua tahun.

Hubungan kami yang awalnya santai, kini berubah sangat serius, dalam artian sudah bukan waktunya berlama-lama dan main-main dengan cinta yang seperti ini. Saya dan dia memutuskan untuk secepat mungkin terikat secara sempurna. Terdengar terburu-buru memang. Namun, untuk apa berlama-lama menjalani sebuah maksiat manis seperti ini.

Keinginan kami ini makin hari makin serius. Saya dan dia saling berusaha keras membenahi diri. Saya dan dia berusaha keras menyakinkan keluarga bahwa kami siap terikat sempurna, tapi kami tidak berkata-kata, kami hanya menunjukkan usaha. Jatuh bangun sudah kami rasakan selama hampir dua tahun ini. Namun, semua bisa dengan mudah diatasi karena kami bisa bertemu di akhir pekan walau hanya seminggu sekali. 

Di level sebelumnya, sudah banyak air mata yang keluar akibat masalah pekerjaan. Ya, masalah paling sensitif yang akan ditanyakan kebanyakan orang sebelum memutuskan mengikat diri dengan pasangan secara sempurna. Setelah berbulan-bulan berusaha bersama, akhirnya kami merasa sudah cukup secara finansial. Ya, kami buka usaha bersama berdua menyambi pekerjaan dia di sebuah badan usaha.

Kali ini, Sang Pembolak-Balik Hati sedang ingin menguji kami ke level selanjutnya. Setelah diuji dengan waktu, tenaga, dan finansial, kini kami diuji dengan jarak. Ya. Jarak. Hal yang paling saya takutkan. Banyak orang bilang, tidak usah takut dengan jarak di era teknologi tingkat tinggi seperti sekarang. Seberapa milyaran kilometer pun bisa dilipat. Jarak tak lagi terasa. Kami masih bisa saling menghantar pesan suara via udara, menatap wajah dalam layar, tertawa bersama walau kadang terganggu kecepatan koneksi, dan tangis saya masih bisa dibagi dengan dia walau belum ada teknologi yang mampu membawa tangannya ke mari untuk mengusap air mata. 

Namun, tidak bisa dipungkiri. Seberapa mutakhirnya teknologi, tidak bisa mengisi kehampaan manusia secara fisik. Sang Pembolak-Balik Hati tahu bahwa kelemahan pria adalah mata dan kelemahan wanita adalah ada rasa tenangnya bila ada yang ‘mendengarkannya bercerita ngalor-ngidul’. 

Tidak bisa dipungkiri, pada saat jauh secara fisik seperti ini dengan dia, ada yang tidak sengaja mengada secara fisik, yang ternyata mampu mengisi salah satu lubang hampa yang tidak kasat mata. Ada ‘dia’ lainnya yang ternyata mampu membuat tangan ini tiba-tiba tertuntun bergerak menyapanya via teknologi dan bahkan mampu membimbing senyum merekah menyunggingkan bulat sabit tipis setiap ‘dia’ berada dekat dengan saya. Bahkan, ‘dia’ mampu menghentikan waktu, membuat bunga-bunga bermekaran, dan daun-daun berguguran saat kami bersama dalam ketidaksengajaan pertemuan. Rasa yang sama saat saya bersama dengan dia yang jauh di sana dulu. 

Berawal dari seringnya bertemu dengan tidak sengaja dan merasa terkoneksi secara pikiran, hati bisa bergerak menyengajakan pertemuan. Berawal dari saling mendengarkan, tidak bisa dipungkiri, hati bisa bercabang membentuk dua jalan. Hingga sampailah dua insan pada tahap memikirkan dia dan ‘dia’.

Saya dan ‘dia’ bernasib sama. Sama-sama menunggu habisnya masa dan sama-sama ditunggu oleh dianya masing-masing. Kami tahu, kami terjebak dalam kenyamanan yang rumit. Kenyamanan yang tidak seharusnya kami sengajakan.

Tepat pada suatu sore, saya duduk di tepi kasur. Saya buka smartphone seperti lumrahnya manusia era kekinian yang tidak bisa lepas dari makhluk maya satu itu. Saya dapati banyak sekali notifikasi memenuhi layar smartphone saya sore itu. Semua jejaring sosial mengawe-awe minta diperhatikan dengan notifikasinya yang sebenarnya membodohkan.

Sampailah saya pada dua buah notifikasi yang datang di waktu yang hampir bersamaan. Ada sebuah pesan di Line dan sebuah pesan di WhatsApp. Dari dia dan ‘dia’. Jari saya spontan membuang  notifikasi dari dia dan mulai membuka pesan dari ‘dia’. Percakapan kami berlanjut hingga larut. Hingga saya terlupa, saya belum membalas pesan dari dia. 
Saya lalu membalas pesan dari dia. Percakapan berlangsung seperti biasa, seperti seharusnya, namun, saya merasa ada yang hambar. Saya lalu lagi-lagi membuang notifikasi perpesanannya dan membuka jendela perpesanan dengan ‘dia’ lagi. 

Hingga pada titik kantuk, saya mengucapkan dua buah “Good night”. Untuk dia dan ‘dia’. Pikiran saya sudah resmi terganggu oleh ‘dia’.
Saya lalu tidur. Namun tidak tertidur. Saya terpejam. Namun yang keluar di dalam pejaman saya selalu wajah ‘dia’. Saya merasa saya sudah sangat salah. Lalu, saya berusaha mencari wajah dia dalam ingatan saya. Berusaha mengingat rasa hangat pundaknya pada saat saya menangis. Berusaha mengingat nada tertawanya. Berusaha mengingat lentik bulu mata yang menaungi bola mata kecilnya yang cokelat. Berusaha mengingat di kanan atau di kirikah letak gupil alisnya. Berusaha mengingat sudut kemiringan senyumnya setiap menjemput saya di depan rumah. Berusaha mengingat segala peluh dan air mata yang sudah kami keluarkan berdua saat membangun usaha bersama. Namun, saya tetap tidak menemukan sosok dia dalam pejaman mata ini.

Saya berusaha bangun dari tempat tidur. Saya lalu membaca Al-Quran karena hati saya sangat tidak tenang. Tidak sengaja, yang saya buka adalah Surat An-Nisa. Surat yang sangat memuliakan wanita. Tidak disebutkan bahwa wanita boleh mengawini lebih dari satu pria. Namun, pria diperbolehkan mengawini lebih dari satu wanita, hingga empat. Saya lalu menangis. Saya tidak kuat melanjutkan membaca. Pedas sekali rasanya mata saya berurai air hangat asin berisi penyesalan itu. Saya lalu memandang foto ‘dia’ dalam jejaring perpesanan. Saya berkata pada foto itu. “Kamu tahu, sejak kali pertama kita bertemu secara tidak terencana, aku sudah lebih dulu mendengar namamu. Aku tidak pernah menaruh rasa penasaran pada nama itu. Namun, entah kenapa, hati ini selalu berbisik bahwa sepertinya kamu akan ada di dalam catatan perjalananku selama di sini. Pertemuan pertamaku denganmu berlangsung biasa saja, aku tidak tertarik. Tapi, sepulangnya bertemu denganmu, ada yang mulai salah dengan kita. Aku mulai mencarimu. Kamu mulai mencariku. Kita mulai saling mencari. Aku mulai mencari tahu tentang kamu dan kehidupanmu. Sampailah aku pada titik sekarang. Titik di mana sepertinya, kita harus sedikit menjaga jarak. Kamu sudah ada yang menunggu. Begitu pula dengan aku. Sepertinya, kita tidak boleh saling menyamankan lagi. Kita hanya sedang termakan kata nyaman. Kamu adalah orang yang baik yang mungkin dikirimkan oleh Tuhan untuk mengisi lubang tak kasat mata dalam diriku selama di sini. Namun, di balik rezeki itu, Tuhan menyertakan pula ujian untuk kita berdua. Terima kasih, mulai sekarang aku akan menjaga jarak”.

Lalu, saya menutup foto ‘dia’. Saya buka foto-foto lama saya bersama dia. Tiba-tiba ada energi baru yang masuk dalam diri saya, seakan tidak mengizinkan saya terkantuk lagi. Saya terus terbangun. Memandangi semua foto dalam linimasa Instagram saya mulai tahun 2014. Tahun pertama saya mengenal dia.

Makin menangislah saya malam itu. Saya seakan sedang menonton film dan mengikuti alurnya. Perlahan saya ingat di mana letak gupil alisnya. Perlahan saya ingat seberapa cokelat bola matanya. Perlahan saya ingat senyum hematnya yang saya rindukan. Perlahan saya ingat temperatur kehangatan punggung dan pundaknya yang mengizinkan saya bersandar tiap saya butuh ketenangan. Perlahan saya ingat kata-kata apa yang dia keluarkan tiap saya marah dan menangis. Perlahan saya ingat perjuangan kami berdua membangun usaha bersama, berpanas-panasan. Berhujan-hujanan, hingga bertengkar di dalam pasar besar.
Perlahan saya ingat kali pertama saya dikenalkan dengan orang tuanya dan dia berkata bahwa saya adalah perempuan pertama yang dia kenalkan dengan orang tuanya. Perlahan saya ingat bagaimana salting-nya dia saat pertama kali saya kenalkan dengan ibu saya. Perlahan saya ingat bagaimana dia berusaha berhenti merokok saat saya bilang saya tidak suka dengan orang sehat yang berusaha sakit, karena saya pernah sakit parah dan berusaha sehat. Perlahan saya ingat bagaimana dia membaca  blog saya dari tahun 2009 hingga 2014 sebelum akhirnya menyatakan bahwa ia ingin terikat dengan saya. Perlahan saya ingat bahwa dia selalu berusaha menjadi seorang kakak yang baik untuk perempuan kekanak-kanakan seperti saya. Perlahan saya ingat makan malam terakhir saya dengan dia saat dia pulang kerja, masih lelah, dan menjemput saya di rumah, sehari sebelum saya terbang ke negeri ini. Perlahan ada energi yang mengingatkan saya, “Dina, tunggu saja...ini tidak akan lama”. 

Hhh...

Perang batin dahsyat ini sungguh menguras energi saya. Ternyata begini rasanya menjalani long distance relationship. Untuk beberapa orang lemah seperti saya, hal ini sangat mungkin terjadi. Bahkan untuk orang kuat seperti ‘dia’, kelemahan lelaki berlaku juga. Tulisan ini terdengar sangat picisan memang. Namun, kenyataan ini ada. Tidak bisa dipungkiri, para pejuang LDR pasti akan diuji dengan hal fisik semacam ini juga. Selamat menjalani long distance relationship, ini tidak akan lama.

Percayalah, bahwa jarak adalah salah satu cara Tuhan menciptakan masa di mana kita saling berbenah sebelum akhirnya dipersatukan. 



Tuesday, June 28, 2016

PPL/KKN Thailand 2016

Halo, blogger. Lamaaaa sekali saya tidak mengotori linimasa blogspot dengan tulisan-tulisan amatir saya. Tulisan kali ini akan mengawali cerita saya mengenai Praktik Pengalaman Lapangan dan Kuliah Kerja Nyata di Thailand Selatan 2016 yang selanjutnya akan saya sebut PPL/KKN Thailand.
Mungkin banyak pertanyaan datang, terutama dari mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), kok bisa sih PPL dan KKN di Thailand? Kok enak, sih? Kok pengumumannya ga terbuka, sih? Kok ini, kok itu...hehe. Banyak pesan yang datang dari jejaring sosial saya seputar program ini semenjak saya layangkan kegiatan saya melalui linimasa Instagram, Facebook, dan BBM. Akan saya jawab di sini saja, agar lebih enak dan leluasa, ya. Tulisan kali ini semacam menjawab Frequently Asked Questions.

Siapa sih yang menyelenggarakan program ini? Program PPL/KKN Thailand merupakan program kerjasama yang dilaksanakan oleh Abroad Alumni Association of Southern Border Provinces atau Badan Alumni Internasional Thailand Selatan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UM. Sebenarnya, program PPL di luar negeri banyak sekali jenisnya. Program PPL di Thailand pun ada dua macam (kalau di UM). Hanya berbeda penyelengara. Ada yang di Thailand Selatan, ada yang di universitas (yang bekerja sama dengan UM) seperti Walailak University di Songkhla. Tahun ini pun, UM baru saja membuka kesempatan untuk mahasiswa PPL di Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Tapi, yang akan saya ceritakan adalah program yang saya ikuti, yaitu PPL/KKN di Thailand Selatan di semester genap.

Sejak kapan program ini berjalan? Program ini sudah berjalan sejak tahun 2014 dan diadakan tiap semester. UM baru bergabung pada tahun 2015. Selain itu, UM hanya mengikuti program ini tiap akhir semester genap atau mengikuti kalender pendidikan di Thailand, masih awal semester gasal. Terhitung sudah ada enam angkatan hingga saat ini. Namun, di UM baru angkatan kedua.

Di mana saja peserta program akan ditempatkan? Kami akan ditempatkan di berbagai wilayah di Thailand Selatan meliputi Thailand Selatan bagian atas (Krabi, Trang, Panga, Satun, Ranong, Nakhon Si Thammarat, dan Pathalung), Songkhla, Yala, Pattani, dan Narathiwat. Seperti yang media kekinian sampaikan, wilayah-wilayah ini merupakan wilayah yang sedang disorot, wilayah yang berada di zona waspada konflik, terutama Pattani, Yala, dan Narathiwat. Bila kita lihat di media, kita akan jumpai berita kurang mengenakkan mengenai 5 wilayah ini. Tapi tenang, persepsi kita akan berubah ketika sudah sampai di tanah rantauan seperti yang saya rasakan sekarang. Ibarat saya orang asing yang berkunjung ke Indonesia, saya pasti akan takut akan isu bom di Indonesia yang beredar di luar negeri. Tetapi, nyatanya tidak selalu ada bom di Indonesia, ya kan? Memang benar, banyak askar atau tentara dan polisi yang memeriksa semua kendaraan tiap hampir 2—5 kilometer di sini. Semua itu dilakukan untuk menjaga keamanan, tidak perlu kita paranoid. Tidak perlu pula kita terlalu menanyakannya. Kita hanya perlu pasrah kepada Allah dan tetap waspada.

Mengapa harus mengirim mahasiswa dari Indonesia untuk mengajar? Seperti informasi yang saya tangkap pada saat pembukaan program, program ini diadakan dengan tujuan untuk memperbaiki pendidikan agama Islam dan bahasa Melayu di Thailand  Selatan. Sebagian besar masyarakat Thailand Selatan beragama muslim. Muslim di sini pun tidak seperti di Indonesia yang bebas berekspresi dalam busana. Muslim di sini selalu menutup aurat dengan baik, terutama para perempuan. Jarang dijumpai perempuan yang memakai celana dan kerudung tidak menutup dada, kecuali di pasar atau pemukiman warga. Bila di tempat umum, semua muslim perempuan memakai gamis, jubah, khimar, bahkan tak jarang bercadar. Pergaulan perempuan dan laki-laki di sini pun tidak sebebas di Indonesia dalam hal berinteraksi. Bahasa sehari-hari yang digunakan di sini dalam lingkungan informal adalah bahasa Melayu dan dalam lingkungan formal digunakan bahasa Thai. Namun, bahasa Melayu yang digunakan di sini berbeda dengan bahasa Melayu yang kita jumpai di bagian barat Indonesia maupun di Malaysia. Itulah kenapa alasan negara ini mengirim kami yang berasal dari Indonesia untuk mengajar ilmu agama lebih dalam dan memperbaiki bahasa Melayu di Thailand Selatan. Tak jarang pula, kami harus mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Seperti kita tahu, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi internasional dan bahasa Indonesia juga baru saja resmi menjadi bahasa pengantar di ASEAN.

Nah, sudah tahu kenapa alasan diadakannya program ini, bukan? Terjawab sudah pertanyaan “Mengapa harus mengirim mahasiswa dari Indonesia untuk mengajar di Thailand Selatan?”. Sekarang, saya akan menjawab pertanyaan selanjutnya. Apakah semua mahasiswa berkesempatan ikut program ini atau hanya mahasiswa tertentu? Jawabannya adalah semua mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi yang melakukan kerjasamalah yang berhak mengikuti program ini. Namun, mengingat kebutuhan, medan, dan tujuan program ini seperti itu, akan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mengikuti program ini.

Apakah harus dari jurusan bahasa Indonesia? Tidak ada batasan harus berasal dari jurusan apa. Yang jelas, gambaran program ini sudah cukup. Di sana, kita akan mengajarkan bahasa, agama, dan keterampilan sosial lainnya sesuai kebutuhan sekolah penempatan (misal nasyid, debat, kerajinan tangan, dan lain sebagainya). Oleh karena itu, bekal kita dalam mengajar harus cukup. Minimal sudah menempuh mata kuliah pembelajaran seperti materi, program, metode, dan evaluasi pembelajaran. Untuk teman-teman dari program studi non pendidikan, tidak usah khawatir. Beberapa perguruan tinggi seperti UM, mengadakan pembekalan pembelajaran untuk mahasiswa yang terpilih.

Berapa dana yang harus disiapkan untuk mengikuti program ini? Program ini merupakan program yang didanai oleh penyelenggara. Peserta akan mendapatkan bantuan dana untuk kebutuhan bulanan sebesar 4000 Baht atau setara dengan kurang lebih Rp 1.600.000,- (bila melihat kurs beli Baht dengan Rupiah saat ini) per bulan. Namun, peserta dianjurkan menyiapkan dana untuk kebutuhan pribadi selama satu bulan pertama. Untuk persiapannya, bisa diperkirakan sendiri, terutama peserta perempuan yang tidak biasa memakai jubah dan khimar seperti saya, harus menyiapkannya dan itu dengan menggunakan dana pribadi. Kebutuhan lain pun harus dipersiapkan seperti persediaan makanan instan hingga alat mandi, bahkan media-media sederhana untuk mengajar. Intinya, bila memang berniat mengikuti program ini, tidak dipungkiri, saya katakan fakta agar tidak terjadi kesalahpahaman, harus menyiapkan finansial jauh-jauh hari mengingat kebutuhan yang harus disiapkan tidak sedikit. Tapi, ini semua demi kelancaran program, bukan demi gaya-gayaan atau apapun. Kalau tidak punya biaya pun, tidak usah ragu ikut program ini. Tidak ada yang percuma dan terbuang, terbayar dengan pengalaman luar biasa yang didapatkan di sini.

Alhamdulillah, UM memberi bantuan dana tiket pesawat untuk peserta PPL/KKN Thailand ini. Selain itu, pengurusan visa juga dibantu oleh universitas. Tapi, dana pengurusan paspor dan visa tetap ditanggung peserta. Namun perlu diingat, tidak semua fakultas bahkan tidak semua universitas mendanai dan membantu proses ini. Kalau Fakultas Sastra di UM, memang secara langsung mendanai. Tapi, ada salah satu peserta dari Fakultas Ekonomi yang harus mengajukan dana dulu ke fakultas. Tidak langsung diberi ketika telah dinyatakan lolos seleksi. Mahasiswalah yang harus aktif. Jadi, para mahasiswa di luar fakultas dan universitas yang mendanai secara langsung, harus mempersiapkan hal ini.

Bagaimana dengan semester yang ditinggalkan? Ya. Pasti banyak yang bertanya mengenai waktu pelaksanaan program yang bertabrakan dengan mulainya semester gasal di UM. Mohon maaf, sedari tadi saya bercerita tentang UM, karena saya berasal dari UM, hehe. Saya kurang tahu bagaimana sistem di universitas yang lain. Program ini berlangsung selama lima bulan. Itu artinya, akan ada dua bulan di semester tujuh yang tidak ditempuh di Indonesia. Hal tersebut tidak jadi masalah. UM memberi keringanan berupa penyetaraan atau ekuivalensi program ini dengan 15 Sistem Kredit Semester (SKS). Seperti saya, di semester 7, saya harus menempuh mata kuliah Kajian dan Praktik Lapangan (KPL) yang setara dengan 4 SKS, skripsi yang setara dengan 6 SKS, dan satu mata kuliah yaitu Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing yang setara dengan 3 SKS. Itu artinya, saya memanfaatkan 13 SKS untuk disetarakan. Namun perlu diingat, tidak semua matakuliah bisa dibayar dengan 15 SKS ini. Kami harus berkonsultasi dengan Ketua Jurusan, mana yang bisa dan tidak bisa disetarakan. Pun, kami tidak langsung lulus mendapat nilai A. Sepulangnya ke Indonesia, kami tetap harus mengikuti prosedur perkuliahan yang berupa tugas akhir dan lain sebagainya untuk mendapatkan nilai. Note that.

Bagaimana seleksi pesertanya? Sekali lagi, mohon maaf saya bercerita tentang UM, ya, hehe. Seleksi yang dilaksanakan di UM meliputi beberapa aspek. Ada wawancara menggunakan bahasa Inggris (berlaku untuk semua peserta), wawancara bahasa asing lainnya (bila peserta memiliki kemampuan berbahasa asing selain bahasa Inggris), membaca kitab bertulisan Arab, menghapal surat di Al-Quran, dan wawancara mendalam (depth interview) tentang kesiapan mental untuk ditempatkan di sana. Wawancara tersebut harus dilakukan, sekali lagi mengingat medan yang akan ditempati nanti berbeda dengan medan PPL di Indonesia. Selain wawancara, peserta juga diminta menunjukkan kemampuan di bidang sosial, misal menyanyi, menari, bercerita, dan lain sebagainya. Pada saat itu saya menunjukkan kemampuan saya melantunkan tembang Jawa dan salah satu penguji menyuruh saya mengganti liriknya dengan bahasa Indonesia dengan nada yang sama. Spontan saya harus berpikir keras, hehe. Hal ini karena kita nantinya tidak hanya mengajar formal, tapi besar kemungkinan sekaligus menjadi duta budaya Indonesia.

Syaratnya apa saja? Syarat administrasi yang harus dipenuhi berbeda-beda di masing-masing kampus. Misalnya saja ada kampus yang mensyaratakan belum menikah, IP minimal sekian, dll. Namun, syarat umum yang dibutuhkan adalah:
-Terdaftar sebagai mahasiswa aktif di masing-masing perguruan tinggi.
-Jumlah peserta KKN/PPL terpadu sesuai dengan kebutuhan sekolah/madrasah di wilayah Thailand Selatan dan kesepakatan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.
-Memiliki kemampuan di bidang bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
-Memiliki kemampuan baca tulis Al-Quran.
-Memiliki kemampuan nonakademik seperti MC, Nasyid, Banjari, dsb.
-Memiliki kemampuan mendidik, terbukti bersedia menjadi tenaga pengajar di sekolah/madrasah tempat mengikuti program PPL/KKN Terpadu.

Berapa mahasiswa yang diambil? Semua bergantung kebutuhan. Di angkatan saya, ada 91 mahasiswa se-Indonesia yang berangkat. Dari UM, ada 16 mahasiswa yang berangkat. Semua melalui proses seleksi dengan menyisakan lebih dari sekitar 100 mahasiswa yang mendaftar di UM.

16 delegasi Universitas Negeri Malang untuk PPL/KKN Thailand Selatan 2016 yang berasal dari berbagai jurusan
Bagaimana dengan bahasa pengantar? Bahasa pengantar yang nantinya akan digunakan dalam mengajar bergantung jenis sekolah dan bergantung wilayah mana. Di dalam lingkungan formal, bahasa Thai banyak digunakan di sekolah. Dalam lingkungan informal, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Thailand (sedikit berbeda dengan Malaysia dan barat Indonesia, namun lebih condong ke arah bahasa Melayu Kelantan). Namun, di beberapa sekolah pondok, kita tidak perlu menggunakan bahasa Thai, karena semua berbahasa Melayu khas Pattani. Kita pun sangat diizinkan mengajar menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris, sejauh siswa dapat memahami. Berbeda bila mengajar di sekolah kerajaan (di Indonesia kita sebut sekolah negeri), akan banyak kita jumpai penggunaan bahasa Thai, karena tidak semua siswa adalah muslim dan dapat berbahasa Melayu.

Untuk yang ditempatkan di Pattani, Yala, dan Narathiwat, tak usah khawatir karena mayoritas menggunakan bahasa Melayu Pattani, selama sekolah tersebut bukan sekolah kerajaan. Namun di wilayah Songkhla dan wilayah Thailand Selatan bagian atas, akan lebih banyak dijumpai penggunaan bahasa Thai. Seperti saya, saya ditempatkan di Narathiwat, tapi di sekolah kerajaan. Otomatis saya juga harus menghargai murid saya yang nonmuslim dengan menggunakan bahasa Thai sedikit-sedikit.

Bagaimana jika peserta tidak bisa berbahasa Thailand dan Melayu? Tidak perlu khawatir. Kita bisa belajar selagi belum berangkat. Beli saja buku pintar bahasa Thai sebagai bekal komunikasi dasar. Minimal bisa memperkenalkan diri, umur, asal. Hal ini berguna untuk menarik minat peserta didik di awal pembelajaran. Untuk bahasa Melayu, kita bisa belajar juga dengan buku manual. Manfaatkan teman-teman asal Thailand yang belajar di universitas kita. Kita bisa meminta bantuan pada mereka, minimal dalam hal pengetahuan budaya. Ingat, budaya. Hal yang paling penting kita ketahui terlebih dulu adalah budaya. Misalnya, budaya salam di sana. Salam dengan menyatukan kedua tangan di depan dada hanya ditujukan kepada pemeluk agama Budha sambil mengatakan sawadee khra/khrap. Sedangkan salam sesama muslim harus menyentuh tangan dengan kedua telapak dan mencium bekas salam dengan mengarahkan ke arah hidung. Hanya untuk mukhrim. Bila bukan mukhrim, kita hanya cukup mengangguk. Di Indonesia, bila bukan mukhrim, kita melakukan salam berjauhan. Di sini tidak wajar.

Alhamdulillah, di UM, kami mendapatkan pembekalan bahasa dan budaya Thailand dan Melayu dari para mahasiswa Thailand yang belajar di kampus kami. Kami mendapatkan pembekalan bahasa Thailand hampir setiap hari bersama Khru Palm dan Khru Dew, mahasiswa S2 Bahasa Indonesia. Sedangkan untuk bahasa Melayu, kami mendapatkan pembekalan dari Cikgu Nana dan Cikgu Sofia, mahasiswa program In Country Walailak University yang belajar bahasa Indonesia di kampus kami selama kurang lebih 4 bulan.

Untuk teman-teman kampus lain yang tidak mendapat pembekalan, harus proaktif membekali diri. Tidak perlu khawatir juga, kita akan ditempatkan selama 5 bulan di lingkungan penutur asli. Secara terpaksa, kita akan bisa berbahasa bila setiap hari tercelup dalam masyarakatnya. Awal mula datang ke mari, saya hanya bisa bahasa Thailand sederhana dan bahasa Melayu yang sangat Indonesia. Bahkan, para murid menertawakan bahasa Thailand saya saat saya memperkenalkan diri di depan lapangan akibat bahasa saya yang aneh dan intonasinya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Ya, bahasa Thai adalah tonal language. Beda intonasi, beda sudah maknanya. Bila sudah deadlock, saya hanya bisa mengatakan Chan pud pasa Thai mai dai, yang artinya saya tidak bisa berbahasa Thailand. Akhirnya, guru bahasa Inggris turun tangan sebagai penyambung komunikasi saya. Maka dari itulah, pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Jika tidak, terpaksa bahasa isyaratlah yang harus berperan. Hehe.

Lokasi penempatan berdasarkan apa? Beberapa sekolah penempatan mempunyai syarat untuk menerima peserta PPL. Misalnya saja ada sekolah yang menginginkan dua orang guru, laki-laki dan perempuan. Ada juga yang hanya ingin satu orang guru. Kalau di sekolah saya, menginginkan dua orang guru, yakni guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Namun, akibat beberapa pertimbangan, akhirnya sekolah tempat saya mengajar hanya ditempati oleh saya seorang, mengajar bahasa Indonesia.

Lokasi penempatan beragam dan jangan harap bisa bertemu sesama teman seuniversitas secara mudah. Kami ber-16 dari UM tidak ada yang ditempatkan di sekolah yang berdekatan. Bahkan, ada satu orang teman saya, Asep, yang ditempatkan di Yala seorang diri, tidak ada mahasiswa UM selain dia di Yala. Saya ditempatkan di Narathiwat, di provinsi paling selatan, dan di kabupaten paling selatan. Berbatasan dengan Malaysia. Awalnya, saya kira di sini akan banyak bahasa Melayu. Tapi, ternyata sekolah saya adalah sekolah kerajaan. Jadi, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Thai. Hanya sedikit guru yang bisa berkomunikasi bahasa Melayu secara lancar.

Sekolah yang akan ditempati pun beragam. Ada yang di sekolah negeri seperti saya (sekolah plural, namun mengikuti aturan kerajaan. Biasa disebut sekolah kerajaan.), ada yang di sekolah Islam, bahkan ada yang di pondok. Semua sama saja. Hanya budaya dan aturan sekolah yang berbeda-beda.

Bagaimana dengan tempat tinggal? Ada beragam jawaban bila berkaitan dengan tempat tinggal. Ada yang tinggal bersama santri di pondok. Otomatis, harus terbiasa dengan keberagaman santri dan harus terbiasa meluangkan sedikit ruang pribadi. Ada yang ditempatkan di rumah guru dalam kompleks sekolah seperti saya. Saya tinggal bersama seorang guru muda di sebuah rumah sewa. Ada yang ditempatkan di kontrakan bersama dengan beberapa kawan Indonesia. Ada juga yang tidur di ruangan seadanya. Semua sama saja. Sekali lagi, inilah fakta. Saya percaya, di mana pun lokasi penempatan dan tempat tinggal, Allah sudah punya rencana indah di baliknya.
Maka dari itu, persiapan kebutuhan sehari-hari harus bisa diprediksi jauh-jauh hari. Penting mengetahui tempat penempatan kita sebelum berangkat. Sebisa mungkin, gali informasi dari kakak tingkat atau dari internet dan dari apa pun agar kita siap secara materi. Namun, sekali lagi, sekali lagi, tidak perlu paranoid dan merepotkan berlebihan. Jalani saja.

Kebetulan sekolah saya belum pernah kedatangan mahasiswa PPL Indonesia. Jadi, saya mendapatkan sedikit sekali informasi mengenai sekolah saya dan di mana saya tinggal nantinya. Pada saat saya mencari informasi di internet, yang keluar adalah bahasa Thai semua dan saya tidak paham. Alhasil, saya hanya bisa melihat-lihat beberapa foto. Itu pun beberapa di-lock karena situs yang dipakai adalah lokal Thailand dan tidak bisa dibuka di Indonesia. Berbekal bismillah, saya pasrah mendapatkan rumah tinggal seperti apa. Alhasil, ibu menyuruh saya membawa banyak sekali peralatan seperti setrika, pemanas air, makanan instan, sampai bagasi pesawat saya kelebihan 5 kg dan saya harus membayar denda. Tetapi, alhamdulillah, semua barang yang saya bawa dari Indonesia sangat bermanfaat, tidak ada yang nganggur, karena saya ditempatkan di rumah sewa.

Bagaimana dengan pembekalan pembelajaran? Kita tidak mungkin dilepas oleh kampus begitu saja sebelum mengajar. Apalagi ini mengajar anak di negeri orang. Kampus akan memberikan pengarahan dan juga latihan mengajar micro teaching  sebelum kita berangkat. Di UM, kami mendapakan pembekalan ini selama satu minggu. Inilah mengapa tadi saya mengatakan, untuk peserta dari prodi non pendidikan, tidak perlu terlalu berkecil hati. Tapi, memang harus lebih berlari karena banyak sekali PR yang harus dipenuhi.

Hal yang paling penting saya rasakan sekarang adalah sebagai guru, kita harus bisa mengondisikan kelas secara optimal. Di Indonesia saja, belum tentu semua guru bisa mengondisikan kelas, apalagi di negeri orang dengan bahasa yang sudah berbeda. Setelah itu, persiapan materi dan bahan ajar harus matang. Kalau bisa, susun materi sejak dari Indonesia. Waktu sudah sampai di Thailand, tinggal menyesuaikan saja. Jangan juga mengandalkan media elektronik karena tidak semua sekolah sudah modern. Masih banyak sekolah yang menggunakan papan tulis kapur. Di sekolah saya, tidak semua kelas mempunyai LCD atau TV. Jadi, saya menyiapkan beberapa media sederhana yang saya  bawa dari Indonesia. Ini penting sekali. Jangan sampai kita asyik mempersiapkan kebutuhan pribadi sampai lupa bahwa kita datang untuk mengajar dan kebutuhan pengajaranlah yang seharusnya paling utama disiapkan.


Di mana pengumuman seleksi bisa kita dapatkan? Ya, sampailah saya pada penghujung tulisan panjang lebar ini. Semoga bisa bermanfaat untuk para calon peserta PPL/KKN Thailand dan pembaca lain yang sudah menyempatkan membaca. Info mengenai program ini bisa didapatkan di web PPL masing-masing kampus atau di papan-papan pengumuman di masing-masing fakultas. Jangan sampai jadi generasi yang malas membaca dan hanya bisa mengatakan “Kok pengumumannya gak terbuka, sih? Kok aku ga tahu? Di mana sih pengumumannya?” Hehe...just kidding, tapi dalem J.