About Me

My photo
Gadis Jawa. Melankolis. Romantis. Dinamis. Kadang sedikit manis.

Followers

Wednesday, July 20, 2016

Trip to The Pirates Park

Happy short holiday, buat saya sendiri, hehe. Awalnya saya sedikit iri dengan teman-teman satu pengabdian dengan saya yang ditempatkan di sekolah pondok. Rata-rata libur lebaran mereka 20 hari, yaitu mulai H-10 lebaran dan H+10 lebaran. Sedangkan yang ditempatkan di sekolah kerajaan seperti saya ini hanya mendapat libur tiga hari, yakni H-1 sampai H+2 lebaran saja. Kebetulan, H+3 lebaran adalah hari Sabtu, jadi total liburan lima hari saja

Tapi, Allah memberi rezeki lain. Karena di sekolah kerajaan macam sekolah saya ini tidak hanya dihuni oleh warga sekolah yang muslim, kami ikut libur kerajaan juga tiap ada hari besar Buddha. Tanggal 19 Juli 2016 adalah hari Asalha Puja 2560 dan 20 Juli 2016 adalah hari Masuk Vassa 2560. Hari itu jatuh pada hari Selasa dan Rabu. Seperti di Indonesia, di sini mengenal ‘hari kecepit’ juga, lhoh, hihi. Maka, Senin diliburkan juga. Alhasil, karena sekolah saya libur tiap Sabtu dan Minggu, saya libur deh mulai Sabtu sampai Rabu ini.

Awalnya saya bingung mau ngapain lima hari ini. Eh, ndilalah, alhamdulillah guru sekolah kami mengajak saya untuk berlibur bersama murid-murid yang tergabung bersama kelompok nasyid sekolah, bernama kumpulan Sumayah. Kami akan pergi ke sebuah waterpark di Provinsi Suratthani, 10 jam dari Narathiwat. Saya diberi briefing beberapa hari sebelumnya, mengingat lokasi cukup jauh dari sekolah kami. Kami akan bepergian selama tiga hari dua malam. Konsep bepergiannya adalah hemat tapi senang. Haha.

Yang perlu dipersiapkan adalah bantal (karena kami akan cukup lama berada di dalam mobil, selain itu, bisa untuk bantal tambahan ketika tidur di hotel), alat makan dan alat masak portable (karena kami akan memasak sarapan sendiri supaya hemat), baju ganti, baju untuk masuk air, dan tidak lupa uang saku.

Untuk para perantau seperti saya ini masalah uang saku harus sangat diperhitungkan, mengingat kami jauh dari rumah. Alhamdulillah, karena saya diajak, saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bensin mobil sekolah, sewa kamar hotel, dan tiket masuk ke waterpark. Saya hanya perlu membawa uang pribadi untuk makan di kedai atau jajan di Seven Eleven selama perjalanan. Hihi.

Tapi, tetap saya harus menginfokan agar teman-teman yang mungkin ingin mencoba wisata ke daerah Suratthani dari Narathiwat agar tahu berapa biaya yang harus disiapkan. Selama perjalanan pulang-pergi, saya melihat nominal di pompa bensin yang harus dikeluarkan untuk menghidupi mobil van Toyota Hiace milik sekolah. Yang saya lihat, selama saya melek, kami berhenti di tiga pompa bensin. Total nominal yang dikeluarkan sebesar 3000 Baht (atau sekitar Rp 1.122.000). Info saja, bensin di sini lebih mahal dari di Indonesia. Satu liternya sekitar Rp 10.000. Untuk biaya lainnya, akan saya ceritakan lebih rinci di paragraf-paragraf selanjutnya.

Lanjooot. Kami berangkat hari Minggu pukul 5 sore dari sekolah, total 15 orang yang terdiri dari guru, siswa, dan anak guru. Sebenarnya, mobil van sekolah kami berkapasitas 13 orang saja, namun tidak papalah disempilin kucil-kucil yang duduk di bawah lantai van dengan selimut dan bantal, hehe. Awal berangkat, kami mampir Seven Eleven dulu. Orang sini biasa sebut Sewen. Hati-hati kalau sudah masuk Sewen. Bisa kalap dan beli macem-macem. Termasuk saya nih. Suka banget beli daging asap pedas yang dihangatkan di microwave dan dimasukkan dalam roti tawar. Belum-belum sudah mengeluarkan uang 66 Baht atau sekitar Rp 25.000. Nominal yang lumayan banget karena selama perjalanan kami berhenti di sekitar 4-5 Sewen. Bisa dibayangkan total uang yang dikeluarkan untuk cemilan saja berapa. Haha.

Ngasuh anak dulu, ya...hahaha

Kami berhenti sebentar untuk makan dan solat jama’ maghrib-isya di sebuah pompa bensin di daerah Pattani sekitar pukul 8. Pompa bensin di sini lengkap. Hampir semua pompa bensin di 3 wilayah selatan, mempunyai fasilitas masjid (yang terpisah antara perempuan dan laki-laki), minimarket (bisa Seven Eleven, bisa juga yang lain), dan pujasera. Bahkan, beberapa pompa bensin juga berjajar pertokoan yang menjual baju, pulsa, hingga oleh-oleh.

Saya makan Nea Daeng (daging bumbu merah) seharga 40 Baht atau sekitar Rp 15.000 dan Cha Yen (es teh tarik) seharga 20 Baht atau sekitar Rp 8.000. Lebih mahal dari Nea Daeng di dekat rumah sewa saya yang hanya 35 Baht dan Cha Yen yang hanya 10 Baht. Semua menu di sini alhamdulillah halal, karena semua penjualnya muslim (ditandai dengan penjualnya berjilbab, bersongkok, atau memberi label halal pada plang nama kedai). Di 3 wilayah selatan ini tidak sulit mencari makanan halal karena mayoritas penduduknya orang muslim. Yang saya sayangkan, semua menu ditulis dalam bahasa Thai tanpa penjelasan. Hanya beberapa saja yang menyertakan gambar. Untuk saran saja, bila takut diburu waktu, pesan saja makanan yang prasmanan dan tinggal pilih. Kebetulan waktu itu saya kurang sreg sama menu yang sudah matang. Saya pesan Nea Daeng karena cari aman, walaupun lumayan lama masaknya. Saya menggunakan bahasa Melayu campur Thai sederhana karena penjual mengajak saya berbahasa Thailand. Awalnya sempat missed-com dengan penjual karena teman saya pesan makanan tapi dia batalkan dan lupa konfirmasi. Akhirnya saya yang kena sengit penjual, ditambah lagi bahasa saya kacau, ia nampak sangat tidak ramah. Hehe...untuk pelajaran saja, hati-hati saat berbahasa di negeri orang. Jangan mengeluarkan kata-kata yang berpotensi menimbulkan missed-com. Pakailah bahasa semampu kita saat bertransaksi, asal jelas dan tegas.

Usai makan, kami lanjutkan perjalanan. Berhubung sudah terlalu malam dan guru yang menyetir sudah sangat mengantuk, kami sewa hotel di daerah Nakhon Si Tammarat pukul 1 malam. Kalau untuk hotel, kebetulan saya sengaja ngga nanya ke guru sekolah harganya berapa, karena sedikit sungkan. Hehehe. Tapi, untuk gambaran saja, kami menginap di hotel berbeda selama dua malam. Yang pertama di daerah Nakhon Si Tammarat saat berangkat ini dan saat pulang di Hatyai (Songkhla). Hotel pertama memiliki satu kasur dengan kapasitas 2-3 orang, kamar mandi dalam tanpa pemanas air, TV, dan kipas angin. Sedangkan hotel kedua sedikit lebih bagus (karena terpaksa akibat suatu hal), ada kamar mandi dalam dengan pemanas air dan WC duduk, AC, TV, parkiran mobil per kamar, dan kasur yang bisa dibagi dua, jadi kapasitas 4-5 orang. Dulu, saya sempat bermalam di sebuah hotel sederhana di daerah Pattani dengan fasilitas kasur yang bisa dibagi dua, kipas angin, TV, kamar mandi dalam tanpa pemanas seharga 360 Baht per malam atau sekitar Rp 140.000. Relatif murah.

Kami hanya menyewa 3 kamar saja. Di kamar saya, saya tidur berenam. Otomatis, harus ada yang tidur di lantai dengan selimut dan bantal yang dibawa sendiri. Paginya, kami harus segera bersiap, karena jarak Nakhon ke Suratthani masih sekitar 2 jam lagi. Sebelum berangkat, kami piknik bersama di parkiran mobil. Kami masak telur dengan kompor gas portable dan sardin kaleng yang dibeli di Sewen. FYI, makanan di dalam tempat wisata relatif mahal, jadi kami membuat makanan sendiri. Sederhana tapi hangat, hihi.


Yang kayak gini ini lho yang nanti bakal dikangenin kalau udah balik ke Indonesia :'D

Setelah check out hotel, kami lanjutkan perjalanan ke Suratthani (dengan skenario mampir Sewen yang ga pernah ketinggalan). Kami sampai di waterpark pukul 10.15. Tidak terlambat karena ia baru buka pukul 10. Tempat ini bernama The Pirates Park, di daerah Wat Pradu. Harga tiket masuknya 250 Baht untuk dewasa dan 150 Baht untuk anak-anak. Sekitar Rp 95.000 dan Rp 56.000. Hampir sama dengan waterpark yang ada di Indonesia. Waktu itu, saya lihat guru sekolah saya mengeluarkan print-print-an semacam promo untuk tiket masuk. Saya juga kurang tahu, sekali lagi karena saya ditraktir, hehe.

Saya suka tempat ini menyediakan segala macam petunjuk menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Thai dan bahasa Inggris. Ini mempermudah para turis asing seperti saya yang buta aksara Thai. Namun, sayang sekali, petugas di depan tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga waktu dia ajak saya berbicara, saya hanya bisa senyum sambil mengangguk dan dia tampak bingung. Padahal saya sudah mengucapkan “Chan ma jak Indonesia, put pasa Thai mai dai”, atau saya orang Indonesia dan tidak bisa berbahasa Thai. Ternyata saat itu dia minta tangan saya distempel tanda masuk, hehehehe.

Seperti lazimnya tempat wisata, kami dilarang membawa makanan dari luar. Tapi, seperti lazimnya juga sebuah tempat wisata yang kurang ketat, kalau kami selipkan snack  di dalam tumpukan baju kami, tidak akan ketahuan, hihi. Ini salah satu trik agar tidak kelaparan setelah main wahana. Karena, harga makanan di dalam waterpark relatif mahal (untuk para perantau).

Ada banyak kolam di dalam waterpark. Ada kolam untuk anak-anak, kolam untuk seluncuran, dan kolam-kolam untuk permainan tantangan semacam acara Benteng Takeshi, mulai dari yang mudah hingga sulit. Saya adalah tipe orang yang takut air, walaupun saya Aquarian, hehe. Saya hanya berani mencoba wahana yang tidak terlalu dalam kolamnya, agar kalau saya jatuh, saya tidak tenggelam, haha. Itu pun, saat saya jatuh, saya curang, ngerepotin murid-murid buat ngangkat saya dari atas wahana, hihi.


Sumber foto: chillpainai.com

Kalau di kolam yang dalam, kami semua diwajibkan pakai pelampung. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan di sini, karena selain ada pelampung, ada life guard yang selalu memantau tiap pengunjung dan membantu para pengunjung yang terjatuh saat kurang berhasil melewati tantangan wahana. Tapi, saya memang dasarnya pengecut sama air, jadi saya pura-pura jaga anak guru yang ngga bisa berenang aja waktu itu, sama pura-pura basah biar keliatan menghargai udah ditraktir, wkwkwk.



Saya mencoba seluncuran dua kali dan coba manjat-manjat. Tapi, saya lupa kalau kaki kiri saya memang sedikit bermasalah dalam motoriknya akibat skoliosis. Sempat keram di tengah wahana dan ga bisa manjat, hahahah. Tapi seru, saya bisa teriak-teriak melepas penat :D



Oh iya, untuk tips saja, saya sempat terpeleset karena kaki saya licin bekas sunblock. Jadi, pakai sunblock-nya agak lama sebelum sampai air saja, agar tidak licin. Sunblock wajib banget dipakai di sini, karena panasnya ngga lumrah. Selain pengap, menyengat juga. Saya menghitam pulang dari sini, hihi.

Selain wahana, di sini banyak banget spot foto yang instagramable. Namun, berhubung saya tidak membawa fotografer favorit saya (baca: pacar), saya melewatkan ke-instagramable-an ini, hehe. Jadi, minta tolong sekedarnya sama murid atau salah satu guru, hihi.


Usai main air, kami harus segera mandi karena lapar sudah menyerang. Tidak kerasa kami main air sampai pukul 1 siang. Kamar mandi di sini banyak dan tidak perlu antre. Tempat rias pun disediakan, dilengkapi dengan hair dryer. Namun, lucunya, di sini tidak kami jumpai shower atau minimal gayung dan ember untuk mandi. Hanya ada WC dan penyiramnya. Saya mencari-cari apakah memang WC dan tempat mandi dipisah, ternyata tidak. Hanya ada itu saja. Terpaksa saya mandi menggunakan penyiram WC, hahaha. Butuh keahlian khusus keramas pakai penyiram WC. Mungkin, karena tempat ini baru, tempat mandi belum selesai dibuat atau bagaimana, saya juga kurang tahu :D.


Bahkan di kamar mandi pun nemu aja barang yang bisa cute kalau difoto, haha. Ga penting :D

Setelah semua beres, kami meninggalkan waterpark sekitar pukul 2 siang, untuk mencari makan siang di luar dan melanjutkan wisata ke tempat berikutnya yang akan saya ceritakan di post selanjutnya. Well, itu tadi cerita saya tentang liburan di The Pirates Park, Suratthani. Semoga sedikit info ini bermanfaat buat teman-teman yang lagi berada di Thailand Selatan atau yang mau pergi ke Thailand Selatan. Sekali lagi, happy short holiday!

Monday, July 11, 2016

Long Distance Relationship

Saya sebenarnya adalah perempuan yang sudah bosan dengan urusan cinta, apalagi cinta monyet. Saya sadar usia saya sudah tidak lagi remaja, sudah 22 tahun. Saya memutuskan untuk tidak terikat dengan siapa pun setelah cukup merasakan sakitnya cinta monyet beberapa tahun lalu. 

Namun, seperti yang sudah saya ceritakan di halaman sebelumnya, saya lagi-lagi ingkar janji dengan prinsip yang saya buat sendiri. Saya kembali terikat.

Semua berjalan santai saja, saya sengaja tidak memperlakukannya sebaik yang sebelum-sebelumnya. Saya sudah bosan berlaku baik untuk seseorang yang akhirnya pergi. Saya hanya takut sakit hati atau menyakiti lagi.

Dia datang tanpa kata tanya, dia hanya membuat pernyataan. Dia ucapkan semua kelemahan dia dan ke-apa-ada-annya dia. Perkenalan kami sangat singkat sebelum akhirnya terikat. Bahkan, dia mampu mengalahkan dua orang lain yang kebetulan saat itu dekat dengan saya selama dua tahun.

Hubungan kami yang awalnya santai, kini berubah sangat serius, dalam artian sudah bukan waktunya berlama-lama dan main-main dengan cinta yang seperti ini. Saya dan dia memutuskan untuk secepat mungkin terikat secara sempurna. Terdengar terburu-buru memang. Namun, untuk apa berlama-lama menjalani sebuah maksiat manis seperti ini.

Keinginan kami ini makin hari makin serius. Saya dan dia saling berusaha keras membenahi diri. Saya dan dia berusaha keras menyakinkan keluarga bahwa kami siap terikat sempurna, tapi kami tidak berkata-kata, kami hanya menunjukkan usaha. Jatuh bangun sudah kami rasakan selama hampir dua tahun ini. Namun, semua bisa dengan mudah diatasi karena kami bisa bertemu di akhir pekan walau hanya seminggu sekali. 

Di level sebelumnya, sudah banyak air mata yang keluar akibat masalah pekerjaan. Ya, masalah paling sensitif yang akan ditanyakan kebanyakan orang sebelum memutuskan mengikat diri dengan pasangan secara sempurna. Setelah berbulan-bulan berusaha bersama, akhirnya kami merasa sudah cukup secara finansial. Ya, kami buka usaha bersama berdua menyambi pekerjaan dia di sebuah badan usaha.

Kali ini, Sang Pembolak-Balik Hati sedang ingin menguji kami ke level selanjutnya. Setelah diuji dengan waktu, tenaga, dan finansial, kini kami diuji dengan jarak. Ya. Jarak. Hal yang paling saya takutkan. Banyak orang bilang, tidak usah takut dengan jarak di era teknologi tingkat tinggi seperti sekarang. Seberapa milyaran kilometer pun bisa dilipat. Jarak tak lagi terasa. Kami masih bisa saling menghantar pesan suara via udara, menatap wajah dalam layar, tertawa bersama walau kadang terganggu kecepatan koneksi, dan tangis saya masih bisa dibagi dengan dia walau belum ada teknologi yang mampu membawa tangannya ke mari untuk mengusap air mata. 

Namun, tidak bisa dipungkiri. Seberapa mutakhirnya teknologi, tidak bisa mengisi kehampaan manusia secara fisik. Sang Pembolak-Balik Hati tahu bahwa kelemahan pria adalah mata dan kelemahan wanita adalah ada rasa tenangnya bila ada yang ‘mendengarkannya bercerita ngalor-ngidul’. 

Tidak bisa dipungkiri, pada saat jauh secara fisik seperti ini dengan dia, ada yang tidak sengaja mengada secara fisik, yang ternyata mampu mengisi salah satu lubang hampa yang tidak kasat mata. Ada ‘dia’ lainnya yang ternyata mampu membuat tangan ini tiba-tiba tertuntun bergerak menyapanya via teknologi dan bahkan mampu membimbing senyum merekah menyunggingkan bulat sabit tipis setiap ‘dia’ berada dekat dengan saya. Bahkan, ‘dia’ mampu menghentikan waktu, membuat bunga-bunga bermekaran, dan daun-daun berguguran saat kami bersama dalam ketidaksengajaan pertemuan. Rasa yang sama saat saya bersama dengan dia yang jauh di sana dulu. 

Berawal dari seringnya bertemu dengan tidak sengaja dan merasa terkoneksi secara pikiran, hati bisa bergerak menyengajakan pertemuan. Berawal dari saling mendengarkan, tidak bisa dipungkiri, hati bisa bercabang membentuk dua jalan. Hingga sampailah dua insan pada tahap memikirkan dia dan ‘dia’.

Saya dan ‘dia’ bernasib sama. Sama-sama menunggu habisnya masa dan sama-sama ditunggu oleh dianya masing-masing. Kami tahu, kami terjebak dalam kenyamanan yang rumit. Kenyamanan yang tidak seharusnya kami sengajakan.

Tepat pada suatu sore, saya duduk di tepi kasur. Saya buka smartphone seperti lumrahnya manusia era kekinian yang tidak bisa lepas dari makhluk maya satu itu. Saya dapati banyak sekali notifikasi memenuhi layar smartphone saya sore itu. Semua jejaring sosial mengawe-awe minta diperhatikan dengan notifikasinya yang sebenarnya membodohkan.

Sampailah saya pada dua buah notifikasi yang datang di waktu yang hampir bersamaan. Ada sebuah pesan di Line dan sebuah pesan di WhatsApp. Dari dia dan ‘dia’. Jari saya spontan membuang  notifikasi dari dia dan mulai membuka pesan dari ‘dia’. Percakapan kami berlanjut hingga larut. Hingga saya terlupa, saya belum membalas pesan dari dia. 
Saya lalu membalas pesan dari dia. Percakapan berlangsung seperti biasa, seperti seharusnya, namun, saya merasa ada yang hambar. Saya lalu lagi-lagi membuang notifikasi perpesanannya dan membuka jendela perpesanan dengan ‘dia’ lagi. 

Hingga pada titik kantuk, saya mengucapkan dua buah “Good night”. Untuk dia dan ‘dia’. Pikiran saya sudah resmi terganggu oleh ‘dia’.
Saya lalu tidur. Namun tidak tertidur. Saya terpejam. Namun yang keluar di dalam pejaman saya selalu wajah ‘dia’. Saya merasa saya sudah sangat salah. Lalu, saya berusaha mencari wajah dia dalam ingatan saya. Berusaha mengingat rasa hangat pundaknya pada saat saya menangis. Berusaha mengingat nada tertawanya. Berusaha mengingat lentik bulu mata yang menaungi bola mata kecilnya yang cokelat. Berusaha mengingat di kanan atau di kirikah letak gupil alisnya. Berusaha mengingat sudut kemiringan senyumnya setiap menjemput saya di depan rumah. Berusaha mengingat segala peluh dan air mata yang sudah kami keluarkan berdua saat membangun usaha bersama. Namun, saya tetap tidak menemukan sosok dia dalam pejaman mata ini.

Saya berusaha bangun dari tempat tidur. Saya lalu membaca Al-Quran karena hati saya sangat tidak tenang. Tidak sengaja, yang saya buka adalah Surat An-Nisa. Surat yang sangat memuliakan wanita. Tidak disebutkan bahwa wanita boleh mengawini lebih dari satu pria. Namun, pria diperbolehkan mengawini lebih dari satu wanita, hingga empat. Saya lalu menangis. Saya tidak kuat melanjutkan membaca. Pedas sekali rasanya mata saya berurai air hangat asin berisi penyesalan itu. Saya lalu memandang foto ‘dia’ dalam jejaring perpesanan. Saya berkata pada foto itu. “Kamu tahu, sejak kali pertama kita bertemu secara tidak terencana, aku sudah lebih dulu mendengar namamu. Aku tidak pernah menaruh rasa penasaran pada nama itu. Namun, entah kenapa, hati ini selalu berbisik bahwa sepertinya kamu akan ada di dalam catatan perjalananku selama di sini. Pertemuan pertamaku denganmu berlangsung biasa saja, aku tidak tertarik. Tapi, sepulangnya bertemu denganmu, ada yang mulai salah dengan kita. Aku mulai mencarimu. Kamu mulai mencariku. Kita mulai saling mencari. Aku mulai mencari tahu tentang kamu dan kehidupanmu. Sampailah aku pada titik sekarang. Titik di mana sepertinya, kita harus sedikit menjaga jarak. Kamu sudah ada yang menunggu. Begitu pula dengan aku. Sepertinya, kita tidak boleh saling menyamankan lagi. Kita hanya sedang termakan kata nyaman. Kamu adalah orang yang baik yang mungkin dikirimkan oleh Tuhan untuk mengisi lubang tak kasat mata dalam diriku selama di sini. Namun, di balik rezeki itu, Tuhan menyertakan pula ujian untuk kita berdua. Terima kasih, mulai sekarang aku akan menjaga jarak”.

Lalu, saya menutup foto ‘dia’. Saya buka foto-foto lama saya bersama dia. Tiba-tiba ada energi baru yang masuk dalam diri saya, seakan tidak mengizinkan saya terkantuk lagi. Saya terus terbangun. Memandangi semua foto dalam linimasa Instagram saya mulai tahun 2014. Tahun pertama saya mengenal dia.

Makin menangislah saya malam itu. Saya seakan sedang menonton film dan mengikuti alurnya. Perlahan saya ingat di mana letak gupil alisnya. Perlahan saya ingat seberapa cokelat bola matanya. Perlahan saya ingat senyum hematnya yang saya rindukan. Perlahan saya ingat temperatur kehangatan punggung dan pundaknya yang mengizinkan saya bersandar tiap saya butuh ketenangan. Perlahan saya ingat kata-kata apa yang dia keluarkan tiap saya marah dan menangis. Perlahan saya ingat perjuangan kami berdua membangun usaha bersama, berpanas-panasan. Berhujan-hujanan, hingga bertengkar di dalam pasar besar.
Perlahan saya ingat kali pertama saya dikenalkan dengan orang tuanya dan dia berkata bahwa saya adalah perempuan pertama yang dia kenalkan dengan orang tuanya. Perlahan saya ingat bagaimana salting-nya dia saat pertama kali saya kenalkan dengan ibu saya. Perlahan saya ingat bagaimana dia berusaha berhenti merokok saat saya bilang saya tidak suka dengan orang sehat yang berusaha sakit, karena saya pernah sakit parah dan berusaha sehat. Perlahan saya ingat bagaimana dia membaca  blog saya dari tahun 2009 hingga 2014 sebelum akhirnya menyatakan bahwa ia ingin terikat dengan saya. Perlahan saya ingat bahwa dia selalu berusaha menjadi seorang kakak yang baik untuk perempuan kekanak-kanakan seperti saya. Perlahan saya ingat makan malam terakhir saya dengan dia saat dia pulang kerja, masih lelah, dan menjemput saya di rumah, sehari sebelum saya terbang ke negeri ini. Perlahan ada energi yang mengingatkan saya, “Dina, tunggu saja...ini tidak akan lama”. 

Hhh...

Perang batin dahsyat ini sungguh menguras energi saya. Ternyata begini rasanya menjalani long distance relationship. Untuk beberapa orang lemah seperti saya, hal ini sangat mungkin terjadi. Bahkan untuk orang kuat seperti ‘dia’, kelemahan lelaki berlaku juga. Tulisan ini terdengar sangat picisan memang. Namun, kenyataan ini ada. Tidak bisa dipungkiri, para pejuang LDR pasti akan diuji dengan hal fisik semacam ini juga. Selamat menjalani long distance relationship, ini tidak akan lama.

Percayalah, bahwa jarak adalah salah satu cara Tuhan menciptakan masa di mana kita saling berbenah sebelum akhirnya dipersatukan. 



Tuesday, June 28, 2016

PPL/KKN Thailand 2016

Halo, blogger. Lamaaaa sekali saya tidak mengotori linimasa blogspot dengan tulisan-tulisan amatir saya. Tulisan kali ini akan mengawali cerita saya mengenai Praktik Pengalaman Lapangan dan Kuliah Kerja Nyata di Thailand Selatan 2016 yang selanjutnya akan saya sebut PPL/KKN Thailand.
Mungkin banyak pertanyaan datang, terutama dari mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), kok bisa sih PPL dan KKN di Thailand? Kok enak, sih? Kok pengumumannya ga terbuka, sih? Kok ini, kok itu...hehe. Banyak pesan yang datang dari jejaring sosial saya seputar program ini semenjak saya layangkan kegiatan saya melalui linimasa Instagram, Facebook, dan BBM. Akan saya jawab di sini saja, agar lebih enak dan leluasa, ya. Tulisan kali ini semacam menjawab Frequently Asked Questions.

Siapa sih yang menyelenggarakan program ini? Program PPL/KKN Thailand merupakan program kerjasama yang dilaksanakan oleh Abroad Alumni Association of Southern Border Provinces atau Badan Alumni Internasional Thailand Selatan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UM. Sebenarnya, program PPL di luar negeri banyak sekali jenisnya. Program PPL di Thailand pun ada dua macam (kalau di UM). Hanya berbeda penyelengara. Ada yang di Thailand Selatan, ada yang di universitas (yang bekerja sama dengan UM) seperti Walailak University di Songkhla. Tahun ini pun, UM baru saja membuka kesempatan untuk mahasiswa PPL di Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Tapi, yang akan saya ceritakan adalah program yang saya ikuti, yaitu PPL/KKN di Thailand Selatan di semester genap.

Sejak kapan program ini berjalan? Program ini sudah berjalan sejak tahun 2014 dan diadakan tiap semester. UM baru bergabung pada tahun 2015. Selain itu, UM hanya mengikuti program ini tiap akhir semester genap atau mengikuti kalender pendidikan di Thailand, masih awal semester gasal. Terhitung sudah ada enam angkatan hingga saat ini. Namun, di UM baru angkatan kedua.

Di mana saja peserta program akan ditempatkan? Kami akan ditempatkan di berbagai wilayah di Thailand Selatan meliputi Thailand Selatan bagian atas (Krabi, Trang, Panga, Satun, Ranong, Nakhon Si Thammarat, dan Pathalung), Songkhla, Yala, Pattani, dan Narathiwat. Seperti yang media kekinian sampaikan, wilayah-wilayah ini merupakan wilayah yang sedang disorot, wilayah yang berada di zona waspada konflik, terutama Pattani, Yala, dan Narathiwat. Bila kita lihat di media, kita akan jumpai berita kurang mengenakkan mengenai 5 wilayah ini. Tapi tenang, persepsi kita akan berubah ketika sudah sampai di tanah rantauan seperti yang saya rasakan sekarang. Ibarat saya orang asing yang berkunjung ke Indonesia, saya pasti akan takut akan isu bom di Indonesia yang beredar di luar negeri. Tetapi, nyatanya tidak selalu ada bom di Indonesia, ya kan? Memang benar, banyak askar atau tentara dan polisi yang memeriksa semua kendaraan tiap hampir 2—5 kilometer di sini. Semua itu dilakukan untuk menjaga keamanan, tidak perlu kita paranoid. Tidak perlu pula kita terlalu menanyakannya. Kita hanya perlu pasrah kepada Allah dan tetap waspada.

Mengapa harus mengirim mahasiswa dari Indonesia untuk mengajar? Seperti informasi yang saya tangkap pada saat pembukaan program, program ini diadakan dengan tujuan untuk memperbaiki pendidikan agama Islam dan bahasa Melayu di Thailand  Selatan. Sebagian besar masyarakat Thailand Selatan beragama muslim. Muslim di sini pun tidak seperti di Indonesia yang bebas berekspresi dalam busana. Muslim di sini selalu menutup aurat dengan baik, terutama para perempuan. Jarang dijumpai perempuan yang memakai celana dan kerudung tidak menutup dada, kecuali di pasar atau pemukiman warga. Bila di tempat umum, semua muslim perempuan memakai gamis, jubah, khimar, bahkan tak jarang bercadar. Pergaulan perempuan dan laki-laki di sini pun tidak sebebas di Indonesia dalam hal berinteraksi. Bahasa sehari-hari yang digunakan di sini dalam lingkungan informal adalah bahasa Melayu dan dalam lingkungan formal digunakan bahasa Thai. Namun, bahasa Melayu yang digunakan di sini berbeda dengan bahasa Melayu yang kita jumpai di bagian barat Indonesia maupun di Malaysia. Itulah kenapa alasan negara ini mengirim kami yang berasal dari Indonesia untuk mengajar ilmu agama lebih dalam dan memperbaiki bahasa Melayu di Thailand Selatan. Tak jarang pula, kami harus mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Seperti kita tahu, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi internasional dan bahasa Indonesia juga baru saja resmi menjadi bahasa pengantar di ASEAN.

Nah, sudah tahu kenapa alasan diadakannya program ini, bukan? Terjawab sudah pertanyaan “Mengapa harus mengirim mahasiswa dari Indonesia untuk mengajar di Thailand Selatan?”. Sekarang, saya akan menjawab pertanyaan selanjutnya. Apakah semua mahasiswa berkesempatan ikut program ini atau hanya mahasiswa tertentu? Jawabannya adalah semua mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi yang melakukan kerjasamalah yang berhak mengikuti program ini. Namun, mengingat kebutuhan, medan, dan tujuan program ini seperti itu, akan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mengikuti program ini.

Apakah harus dari jurusan bahasa Indonesia? Tidak ada batasan harus berasal dari jurusan apa. Yang jelas, gambaran program ini sudah cukup. Di sana, kita akan mengajarkan bahasa, agama, dan keterampilan sosial lainnya sesuai kebutuhan sekolah penempatan (misal nasyid, debat, kerajinan tangan, dan lain sebagainya). Oleh karena itu, bekal kita dalam mengajar harus cukup. Minimal sudah menempuh mata kuliah pembelajaran seperti materi, program, metode, dan evaluasi pembelajaran. Untuk teman-teman dari program studi non pendidikan, tidak usah khawatir. Beberapa perguruan tinggi seperti UM, mengadakan pembekalan pembelajaran untuk mahasiswa yang terpilih.

Berapa dana yang harus disiapkan untuk mengikuti program ini? Program ini merupakan program yang didanai oleh penyelenggara. Peserta akan mendapatkan bantuan dana untuk kebutuhan bulanan sebesar 4000 Baht atau setara dengan kurang lebih Rp 1.600.000,- (bila melihat kurs beli Baht dengan Rupiah saat ini) per bulan. Namun, peserta dianjurkan menyiapkan dana untuk kebutuhan pribadi selama satu bulan pertama. Untuk persiapannya, bisa diperkirakan sendiri, terutama peserta perempuan yang tidak biasa memakai jubah dan khimar seperti saya, harus menyiapkannya dan itu dengan menggunakan dana pribadi. Kebutuhan lain pun harus dipersiapkan seperti persediaan makanan instan hingga alat mandi, bahkan media-media sederhana untuk mengajar. Intinya, bila memang berniat mengikuti program ini, tidak dipungkiri, saya katakan fakta agar tidak terjadi kesalahpahaman, harus menyiapkan finansial jauh-jauh hari mengingat kebutuhan yang harus disiapkan tidak sedikit. Tapi, ini semua demi kelancaran program, bukan demi gaya-gayaan atau apapun. Kalau tidak punya biaya pun, tidak usah ragu ikut program ini. Tidak ada yang percuma dan terbuang, terbayar dengan pengalaman luar biasa yang didapatkan di sini.

Alhamdulillah, UM memberi bantuan dana tiket pesawat untuk peserta PPL/KKN Thailand ini. Selain itu, pengurusan visa juga dibantu oleh universitas. Tapi, dana pengurusan paspor dan visa tetap ditanggung peserta. Namun perlu diingat, tidak semua fakultas bahkan tidak semua universitas mendanai dan membantu proses ini. Kalau Fakultas Sastra di UM, memang secara langsung mendanai. Tapi, ada salah satu peserta dari Fakultas Ekonomi yang harus mengajukan dana dulu ke fakultas. Tidak langsung diberi ketika telah dinyatakan lolos seleksi. Mahasiswalah yang harus aktif. Jadi, para mahasiswa di luar fakultas dan universitas yang mendanai secara langsung, harus mempersiapkan hal ini.

Bagaimana dengan semester yang ditinggalkan? Ya. Pasti banyak yang bertanya mengenai waktu pelaksanaan program yang bertabrakan dengan mulainya semester gasal di UM. Mohon maaf, sedari tadi saya bercerita tentang UM, karena saya berasal dari UM, hehe. Saya kurang tahu bagaimana sistem di universitas yang lain. Program ini berlangsung selama lima bulan. Itu artinya, akan ada dua bulan di semester tujuh yang tidak ditempuh di Indonesia. Hal tersebut tidak jadi masalah. UM memberi keringanan berupa penyetaraan atau ekuivalensi program ini dengan 15 Sistem Kredit Semester (SKS). Seperti saya, di semester 7, saya harus menempuh mata kuliah Kajian dan Praktik Lapangan (KPL) yang setara dengan 4 SKS, skripsi yang setara dengan 6 SKS, dan satu mata kuliah yaitu Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing yang setara dengan 3 SKS. Itu artinya, saya memanfaatkan 13 SKS untuk disetarakan. Namun perlu diingat, tidak semua matakuliah bisa dibayar dengan 15 SKS ini. Kami harus berkonsultasi dengan Ketua Jurusan, mana yang bisa dan tidak bisa disetarakan. Pun, kami tidak langsung lulus mendapat nilai A. Sepulangnya ke Indonesia, kami tetap harus mengikuti prosedur perkuliahan yang berupa tugas akhir dan lain sebagainya untuk mendapatkan nilai. Note that.

Bagaimana seleksi pesertanya? Sekali lagi, mohon maaf saya bercerita tentang UM, ya, hehe. Seleksi yang dilaksanakan di UM meliputi beberapa aspek. Ada wawancara menggunakan bahasa Inggris (berlaku untuk semua peserta), wawancara bahasa asing lainnya (bila peserta memiliki kemampuan berbahasa asing selain bahasa Inggris), membaca kitab bertulisan Arab, menghapal surat di Al-Quran, dan wawancara mendalam (depth interview) tentang kesiapan mental untuk ditempatkan di sana. Wawancara tersebut harus dilakukan, sekali lagi mengingat medan yang akan ditempati nanti berbeda dengan medan PPL di Indonesia. Selain wawancara, peserta juga diminta menunjukkan kemampuan di bidang sosial, misal menyanyi, menari, bercerita, dan lain sebagainya. Pada saat itu saya menunjukkan kemampuan saya melantunkan tembang Jawa dan salah satu penguji menyuruh saya mengganti liriknya dengan bahasa Indonesia dengan nada yang sama. Spontan saya harus berpikir keras, hehe. Hal ini karena kita nantinya tidak hanya mengajar formal, tapi besar kemungkinan sekaligus menjadi duta budaya Indonesia.

Syaratnya apa saja? Syarat administrasi yang harus dipenuhi berbeda-beda di masing-masing kampus. Misalnya saja ada kampus yang mensyaratakan belum menikah, IP minimal sekian, dll. Namun, syarat umum yang dibutuhkan adalah:
-Terdaftar sebagai mahasiswa aktif di masing-masing perguruan tinggi.
-Jumlah peserta KKN/PPL terpadu sesuai dengan kebutuhan sekolah/madrasah di wilayah Thailand Selatan dan kesepakatan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.
-Memiliki kemampuan di bidang bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
-Memiliki kemampuan baca tulis Al-Quran.
-Memiliki kemampuan nonakademik seperti MC, Nasyid, Banjari, dsb.
-Memiliki kemampuan mendidik, terbukti bersedia menjadi tenaga pengajar di sekolah/madrasah tempat mengikuti program PPL/KKN Terpadu.

Berapa mahasiswa yang diambil? Semua bergantung kebutuhan. Di angkatan saya, ada 91 mahasiswa se-Indonesia yang berangkat. Dari UM, ada 16 mahasiswa yang berangkat. Semua melalui proses seleksi dengan menyisakan lebih dari sekitar 100 mahasiswa yang mendaftar di UM.

16 delegasi Universitas Negeri Malang untuk PPL/KKN Thailand Selatan 2016 yang berasal dari berbagai jurusan
Bagaimana dengan bahasa pengantar? Bahasa pengantar yang nantinya akan digunakan dalam mengajar bergantung jenis sekolah dan bergantung wilayah mana. Di dalam lingkungan formal, bahasa Thai banyak digunakan di sekolah. Dalam lingkungan informal, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Thailand (sedikit berbeda dengan Malaysia dan barat Indonesia, namun lebih condong ke arah bahasa Melayu Kelantan). Namun, di beberapa sekolah pondok, kita tidak perlu menggunakan bahasa Thai, karena semua berbahasa Melayu khas Pattani. Kita pun sangat diizinkan mengajar menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris, sejauh siswa dapat memahami. Berbeda bila mengajar di sekolah kerajaan (di Indonesia kita sebut sekolah negeri), akan banyak kita jumpai penggunaan bahasa Thai, karena tidak semua siswa adalah muslim dan dapat berbahasa Melayu.

Untuk yang ditempatkan di Pattani, Yala, dan Narathiwat, tak usah khawatir karena mayoritas menggunakan bahasa Melayu Pattani, selama sekolah tersebut bukan sekolah kerajaan. Namun di wilayah Songkhla dan wilayah Thailand Selatan bagian atas, akan lebih banyak dijumpai penggunaan bahasa Thai. Seperti saya, saya ditempatkan di Narathiwat, tapi di sekolah kerajaan. Otomatis saya juga harus menghargai murid saya yang nonmuslim dengan menggunakan bahasa Thai sedikit-sedikit.

Bagaimana jika peserta tidak bisa berbahasa Thailand dan Melayu? Tidak perlu khawatir. Kita bisa belajar selagi belum berangkat. Beli saja buku pintar bahasa Thai sebagai bekal komunikasi dasar. Minimal bisa memperkenalkan diri, umur, asal. Hal ini berguna untuk menarik minat peserta didik di awal pembelajaran. Untuk bahasa Melayu, kita bisa belajar juga dengan buku manual. Manfaatkan teman-teman asal Thailand yang belajar di universitas kita. Kita bisa meminta bantuan pada mereka, minimal dalam hal pengetahuan budaya. Ingat, budaya. Hal yang paling penting kita ketahui terlebih dulu adalah budaya. Misalnya, budaya salam di sana. Salam dengan menyatukan kedua tangan di depan dada hanya ditujukan kepada pemeluk agama Budha sambil mengatakan sawadee khra/khrap. Sedangkan salam sesama muslim harus menyentuh tangan dengan kedua telapak dan mencium bekas salam dengan mengarahkan ke arah hidung. Hanya untuk mukhrim. Bila bukan mukhrim, kita hanya cukup mengangguk. Di Indonesia, bila bukan mukhrim, kita melakukan salam berjauhan. Di sini tidak wajar.

Alhamdulillah, di UM, kami mendapatkan pembekalan bahasa dan budaya Thailand dan Melayu dari para mahasiswa Thailand yang belajar di kampus kami. Kami mendapatkan pembekalan bahasa Thailand hampir setiap hari bersama Khru Palm dan Khru Dew, mahasiswa S2 Bahasa Indonesia. Sedangkan untuk bahasa Melayu, kami mendapatkan pembekalan dari Cikgu Nana dan Cikgu Sofia, mahasiswa program In Country Walailak University yang belajar bahasa Indonesia di kampus kami selama kurang lebih 4 bulan.

Untuk teman-teman kampus lain yang tidak mendapat pembekalan, harus proaktif membekali diri. Tidak perlu khawatir juga, kita akan ditempatkan selama 5 bulan di lingkungan penutur asli. Secara terpaksa, kita akan bisa berbahasa bila setiap hari tercelup dalam masyarakatnya. Awal mula datang ke mari, saya hanya bisa bahasa Thailand sederhana dan bahasa Melayu yang sangat Indonesia. Bahkan, para murid menertawakan bahasa Thailand saya saat saya memperkenalkan diri di depan lapangan akibat bahasa saya yang aneh dan intonasinya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Ya, bahasa Thai adalah tonal language. Beda intonasi, beda sudah maknanya. Bila sudah deadlock, saya hanya bisa mengatakan Chan pud pasa Thai mai dai, yang artinya saya tidak bisa berbahasa Thailand. Akhirnya, guru bahasa Inggris turun tangan sebagai penyambung komunikasi saya. Maka dari itulah, pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Jika tidak, terpaksa bahasa isyaratlah yang harus berperan. Hehe.

Lokasi penempatan berdasarkan apa? Beberapa sekolah penempatan mempunyai syarat untuk menerima peserta PPL. Misalnya saja ada sekolah yang menginginkan dua orang guru, laki-laki dan perempuan. Ada juga yang hanya ingin satu orang guru. Kalau di sekolah saya, menginginkan dua orang guru, yakni guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Namun, akibat beberapa pertimbangan, akhirnya sekolah tempat saya mengajar hanya ditempati oleh saya seorang, mengajar bahasa Indonesia.

Lokasi penempatan beragam dan jangan harap bisa bertemu sesama teman seuniversitas secara mudah. Kami ber-16 dari UM tidak ada yang ditempatkan di sekolah yang berdekatan. Bahkan, ada satu orang teman saya, Asep, yang ditempatkan di Yala seorang diri, tidak ada mahasiswa UM selain dia di Yala. Saya ditempatkan di Narathiwat, di provinsi paling selatan, dan di kabupaten paling selatan. Berbatasan dengan Malaysia. Awalnya, saya kira di sini akan banyak bahasa Melayu. Tapi, ternyata sekolah saya adalah sekolah kerajaan. Jadi, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Thai. Hanya sedikit guru yang bisa berkomunikasi bahasa Melayu secara lancar.

Sekolah yang akan ditempati pun beragam. Ada yang di sekolah negeri seperti saya (sekolah plural, namun mengikuti aturan kerajaan. Biasa disebut sekolah kerajaan.), ada yang di sekolah Islam, bahkan ada yang di pondok. Semua sama saja. Hanya budaya dan aturan sekolah yang berbeda-beda.

Bagaimana dengan tempat tinggal? Ada beragam jawaban bila berkaitan dengan tempat tinggal. Ada yang tinggal bersama santri di pondok. Otomatis, harus terbiasa dengan keberagaman santri dan harus terbiasa meluangkan sedikit ruang pribadi. Ada yang ditempatkan di rumah guru dalam kompleks sekolah seperti saya. Saya tinggal bersama seorang guru muda di sebuah rumah sewa. Ada yang ditempatkan di kontrakan bersama dengan beberapa kawan Indonesia. Ada juga yang tidur di ruangan seadanya. Semua sama saja. Sekali lagi, inilah fakta. Saya percaya, di mana pun lokasi penempatan dan tempat tinggal, Allah sudah punya rencana indah di baliknya.
Maka dari itu, persiapan kebutuhan sehari-hari harus bisa diprediksi jauh-jauh hari. Penting mengetahui tempat penempatan kita sebelum berangkat. Sebisa mungkin, gali informasi dari kakak tingkat atau dari internet dan dari apa pun agar kita siap secara materi. Namun, sekali lagi, sekali lagi, tidak perlu paranoid dan merepotkan berlebihan. Jalani saja.

Kebetulan sekolah saya belum pernah kedatangan mahasiswa PPL Indonesia. Jadi, saya mendapatkan sedikit sekali informasi mengenai sekolah saya dan di mana saya tinggal nantinya. Pada saat saya mencari informasi di internet, yang keluar adalah bahasa Thai semua dan saya tidak paham. Alhasil, saya hanya bisa melihat-lihat beberapa foto. Itu pun beberapa di-lock karena situs yang dipakai adalah lokal Thailand dan tidak bisa dibuka di Indonesia. Berbekal bismillah, saya pasrah mendapatkan rumah tinggal seperti apa. Alhasil, ibu menyuruh saya membawa banyak sekali peralatan seperti setrika, pemanas air, makanan instan, sampai bagasi pesawat saya kelebihan 5 kg dan saya harus membayar denda. Tetapi, alhamdulillah, semua barang yang saya bawa dari Indonesia sangat bermanfaat, tidak ada yang nganggur, karena saya ditempatkan di rumah sewa.

Bagaimana dengan pembekalan pembelajaran? Kita tidak mungkin dilepas oleh kampus begitu saja sebelum mengajar. Apalagi ini mengajar anak di negeri orang. Kampus akan memberikan pengarahan dan juga latihan mengajar micro teaching  sebelum kita berangkat. Di UM, kami mendapakan pembekalan ini selama satu minggu. Inilah mengapa tadi saya mengatakan, untuk peserta dari prodi non pendidikan, tidak perlu terlalu berkecil hati. Tapi, memang harus lebih berlari karena banyak sekali PR yang harus dipenuhi.

Hal yang paling penting saya rasakan sekarang adalah sebagai guru, kita harus bisa mengondisikan kelas secara optimal. Di Indonesia saja, belum tentu semua guru bisa mengondisikan kelas, apalagi di negeri orang dengan bahasa yang sudah berbeda. Setelah itu, persiapan materi dan bahan ajar harus matang. Kalau bisa, susun materi sejak dari Indonesia. Waktu sudah sampai di Thailand, tinggal menyesuaikan saja. Jangan juga mengandalkan media elektronik karena tidak semua sekolah sudah modern. Masih banyak sekolah yang menggunakan papan tulis kapur. Di sekolah saya, tidak semua kelas mempunyai LCD atau TV. Jadi, saya menyiapkan beberapa media sederhana yang saya  bawa dari Indonesia. Ini penting sekali. Jangan sampai kita asyik mempersiapkan kebutuhan pribadi sampai lupa bahwa kita datang untuk mengajar dan kebutuhan pengajaranlah yang seharusnya paling utama disiapkan.


Di mana pengumuman seleksi bisa kita dapatkan? Ya, sampailah saya pada penghujung tulisan panjang lebar ini. Semoga bisa bermanfaat untuk para calon peserta PPL/KKN Thailand dan pembaca lain yang sudah menyempatkan membaca. Info mengenai program ini bisa didapatkan di web PPL masing-masing kampus atau di papan-papan pengumuman di masing-masing fakultas. Jangan sampai jadi generasi yang malas membaca dan hanya bisa mengatakan “Kok pengumumannya gak terbuka, sih? Kok aku ga tahu? Di mana sih pengumumannya?” Hehe...just kidding, tapi dalem J.

Tuesday, May 17, 2016

Rose Sedang Tidak Jelas

Angin sungguh sangat tenang siang itu. Hutan mahoni di pinggir kota selalu jadi tempat favorit Rose untuk melamun.

"Aku ingin tahu, apa alasanmu menyuruhku ke mari?" tanya Moon.

"Duduk dulu. Aku sedang ingin curhat tentang seseorang. Boleh?" jawab Rose.

"Siapa? Orang yang kau sukai?" 

"Diam, dan dengarkan dengan baik, oke?" pinta Rose sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya.

"Okelah...aku akan diam dan mendengarkan, seperti anak baik," sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Sebut saja dia Bulan. Dan aku Bintang. Kau tau filosofinya? Bulan adalah satelit, dia berputar-putar bersama bumi mengelilingi bintang yang bernama Matahari. Dan Bintang, selain Matahari, selalu mandiri bersama sinarnya yang berkedip dari kejauhan. Aku akan ceritakan secara singkat." buka Rose bertele-tele.

"Semoga kali ini ceritamu tidak membuatku pusing," gurau Moon.

"Tidak. Tapi akan membuatmu sangatttttt pusing. Aku teruskan." jawab Rose sambil membenarkan posisi duduk.

"Bintang tidak pernah lelah bersinar setiap hari, menunggu satelit-satelit apa saja yang akan berputar mengelilinginya, termasuk Bulan. Bintang sangat mengharap Bulan mengelilinginya juga,"

"Kamu" yang Baru

Berikut ini juga postingan saya yang sudah menjamur menjadi draft sekitar 2 tahun yang lalu.

///




Halo, bloggie, saya menyapa kalian semua setelah sekian lama kurang produktif sebagai blogger yang sudah 6 tahun berkecimpung di dunia per-blog-an. Kali ini saya kembali dengan kisah percintaan yang tiada tara dan tiada terperi yang selama ini mendominasi blog saya yang selama ini membuat galau yang selama ini membuat syahdu, halah, yang yang yang... Yang kali ini akan berbeda ceritanya.

Sejujurnya, saya sudah merasa lelah berteman dengan cinta-cintaan. Cinta monyet tepatnya. Karena, saya rasa, saya sekarang sudah besar. Sudah berkepala 2. Sudah 21 tahun, brooooo. Sudah bukan waktunya untuk main-main dengan cinta apalagi masa depan. Setelah beberapa kali jatuh cinta, kesandung cinta, dan tercebur cinta hampir dengan semua laki-laki yang disinyalir bermodus dengan saya maupun karena saya yang ke-GR-an, saya memutuskan untuk stop cinta-cintaan.

Setelah itu, saya memang vakum selama 2 tahun lebih tanpa status. Tapi, namanya juga manusia, sengempet-ngempetnya pasti tersangkut juga sama yang namanya cinta. Selama dua tahun tanpa status tersebut, tidak bisa dipungkiri saya dekat dengan beberapa orang. Saya sempat sangat mencintai satu orang, namun kita harus terpisah, halah. Intinya, saya sudah lelah. Saya berpikir, untuk apa saya pacaran jika uang saya habis untuk jajan sama dia, pikiran saya terbagi tidak untuk belajar malah nglamunin dia, tiap malam galau sampe bantal penuh pulau-pulau, dan waktu bermain saya dengan teman-teman tersita karena saya prioritaskan dia. Intinya, untuk apa saya pacaran jika banyak efek negatifnya timbang positifnya.

Namun, lagi-lagi namun. Saya hanya manusia yang lemah. Saya tidak bisa memegang janji saya sendiri. Saya bertemu dengan salah satu teman saya. Dan sekarang dia jadi pacar saya. Entah.





Embun dan Rindu

Tulisan di bawah ini adalah draft yang saya temukan. Usianya mengendap di dalam laptop sekitar hampir 2 tahun. Silahkan dinikmati...dilarang baper...

////


Di jam ini, harusnya aku ada di kelas Membaca Teks Nonilmiah dan sedang membuat resensi novel untuk tugas akhir. Pantat ini menempel di kursi kayu lawas di gedung lawas ini pula. Namun otak ini dengan liar berlari-larian menuju wajahnya yang selalu menempel kurang dari satu senti di mataku dan baunya terendus-endus di hidungku. Untung bu dosen sedang tidak memerhatikan. Untung lagi, tugas ini tidak harus selesai sekarang. Yes, saatnya menyalurkan nafsu jariku untuk menulis.

Hari ini adalah hari di mana aku merasa sedang semakin jatuh cinta dengan dia, yang sebelum-sebelumnya sudah aku ceritakan. Sebelum sedekat hari ini, aku sempat semakin menjauh darinya. Bahkan sempat tertarik dengan kumbang yang lain, yang menawarkan untuk menebar benang sari bungaku ke tempat yang lebih layak. Menawarkan ladang yang hijau, dengan awan sebersih kapas bayi di atasnya, dengan langit sebiru lambang PAN mengelilinginya. Membuatku merasa bahwa benar Aquarius tidak bisa bersama dengan Leo. Membuatku merasa bahwa benar Aquarius hanya akan aman bersama Libra atau Sagitarius. Namun, aku salah. Aku salah berbuat gegabah. Menerbangkan si kumbang baru itu sampai loncat-loncat bagai naik di atas trampolin. Membuatnya yakin bahwa aku akan memasrahkan benang sariku dibawa oleh kakinya ke putik bunga lain yang lebih layak dan akan terus bertumbuh sampai ia menjadi ribuan. Aku salah. Aku tidak secepat itu menemukan kumbang baru, aku hanya terbawa suasana.

“Maaf untukmu, kumbang baru. Aku tidak bermaksud demikian. Kau bukan pelampiasan,” kataku untuknya.

Untuk kumbang baru, maaf jika aku harus pergi darimu. Maaf kalau sampai kamu selalu membangunkanku pagi-pagi, padahal kamu tidak biasa. Maaf jika semua orang mengira...aku harus bahagia bersamamu. Aku yang salah.

Aku sadar bahwa aku memang bisa suka dengan siapa saja. Aku sadar bahwa semua yang mendekat bisa saja membuatku kagum dan selalu membuat perbandingan dengannya, si kumbang lama. Tapi, aku salah. Cinta tidak selalu rasional. Teringat kata seseorang bahwa semua orang di dunia ini rasional, sampai ia jatuh cinta.

Ketidakrasionalanku berhenti padamu, kumbang lama.

Aku mulai tidak rasional. Sejauh itu aku pergi dan pura-pura tidak berharap, semakin rindu itu menahanku untuk pulang. Semakin aku berusaha tahu diri, semakin sakit dan lelah hati ini. Saat aku mengatakan “aku pergi”, isyarat “aku mengharapkanmu” selalu terbesit. Apakah sinyal-sinyal itu diterima olehmu? Apakah kamu tahu? Bahwa di setiap kita duduk bersama, aku berada di beberapa senti darimu, aku selalu ingin menyamakan detak jantung kita. Biar kamu tidak tahu bahwa aku deg-deg-an. Kamu tahu? Setiap kamu senyum, aku ingin aku punya mesin penghambat waktu. Kamu tahu? Setiap kamu mengajakku makan, aku hanya ingin kita makan berdua, tidak dengan siapa-siapa. Namun, saat aku tahu kamu mengajakku makan karena teman-temanmu tidak bisa menemanimu makan... Aku mulai sadar. Aku bukan tujuan, aku hanya sebuah opsi.

Kurang satu bulan lagi segala rutinitas “bertemu denganmu” akan berakhir. Aku mulai tidak tahu, aku masih harus jatuh cinta atau tidak. Aku tidak bisa membayangkan nanti, jika kita sudah tidak sering bertemu lagi, apakah aku masih pantas mengharapkanmu atau harus pergi dan mencari kumbang lain. Satu bulan lagi itu tidak lama. Aku akan baik kepadamu dan menerima semua omelanmu.

Yang entah menurutmu berarti atau tidak. Menurutku iya. Makanya aku memberikan potongan kue ulang tahunku kepadamu. Karena menurutku kamu pantas menerimanya.

Yakinkan aku untuk terbiasa
Terbiasa yakin bahwa di setiap pagi,
di setiap embun masih ada rindumu

Sejauh itu, seburuk itu pun
Aku masih di sini, tidak bisa tidak mencintaimu...


Friday, June 05, 2015

Meracik Teh


Teh, selalu menjadi tulisan wajib di setiap menu warung maupun restoran di Indonesia. Selain menjadi minuman yang bahkan kadang lebih murah dari air mineral, teh juga disinyalir mampu meredakan perasaan tidak nyaman pada otak bila diminum hangat-hangat. Meraciknya pun tidak susah. Jika zaman dahulu mungkin sedikit rumit dengan menyeduh rempah teh dengan air panas, menyaringnya, mengendapkannya, baru menyajikannya, kini kita bisa hanya tinggal menyelupkan kantong teh ke atas ke bawah dalam air panas. Bahkan, sudah ada yang berbentuk kantong bundar tinggal celup maupun berbentuk serbuk tinggal aduk.

Meracik teh memang mudah. Namun, meracik teh yang enak sangatlah tidak mudah. Meracik teh dengan logika memang bisa dilakukan semua orang. Namun, meracik teh dengan emosi tidak semudah yang dipikirkan.

Ibuku adalah salah satu pembuat teh yang paling handal, menurutku. Teh yang digunakan adalah teh bermerk Teh Gopek yang sangat familiar di kalangan ibu-ibu. Mungkin bukan teh mahal, bukan juga teh yang paling disukai masyarakat. Namun, ada sesuatu yang magis dengan teh buatan ibu. Setiap pagi, kalau aku tidak meminta susu, ibu selalu membuatkan teh untukku sebelum sarapan. Ibu selalu menyediakan teh untuk kami sekeluarga setiap pagi. Satu gelas kecil untuk anak-anaknya dan satu gelas besar untuk bapak. 

Rasanya sungguh enak. Meminumnya perlahan di saat hangat, aku bisa merasakan cairan itu mengalir dari kerongkongan menuju lambung. Manisnya pas. Tidak kemanisan. Tidak juga sepat. Warnanya tidak terlalu pekat. Tidak juga terlalu bening. Pas.

Alhasil, setiap usai minum teh buatan ibu, aku selalu ingin minum lagi, tapi ibu tidak mengizinkan. Begitu pula bapak. Bedanya, tiap sore sepulang kerja, bapak mendapatkan satu gelas besar lagi.

Pada saat temanku berkunjung ke rumah, ibu menyuruhku membuatkannya teh. Aku meracik teh dengan bahan dan komposisi yang sama. Aku persilahkan ia meminumnya. Satu teguk, lalu ia menaruh cangkirnya. Kami berbincang, aku persilahkan minum lagi. Satu teguk, ia taruh lagi cangkirnya. Aku heran. Mengapa ia tidak sesemangat aku jika minum teh. Pada saat ia berpamitan, aku tengok cangkirnya. Masih setengah, belum habis. Mungkin dia tidak suka teh.

Belakangan ini, aku baru saja membuatkan teh untuk bapak, karena ibu harus ke Jakarta selama 3 hari. Ibu berpesan, aku harus membuatkan bapak teh sebelum bapak berangkat kerja dan sepulang kerja. Aku buatkan teh seperti halnya ibu biasanya. Satu gelas besar penuh. Pada saat bapak akan berangkat kerja, bapak meminum teh buatanku. Namun, tidak sampai habis. Hanya diminum 3/4-nya saja. Aku maklumi, mungkin bapak terburu-buru. Pulangnya, aku buatkan lagi. Aku cicipi, siapa tahu kemanisan atau kurang manis. Saat aku rasa sudah pas panas dan manisnya, aku sajikan di meja. Bapak meminumnya. Habis. Namun, habis dalam waktu yang lama.

Aku pun membuat tehku sendiri, untukku. Namun, aku rasa ada yang kurang dari tehku. Entah itu apa. Mungkin itu pula yang dirasakan oleh temanku dan oleh bapak. Ada satu hal yang kurang. Entah.

Kini, aku percaya, membuat teh tidak semudah demonstrasi iklan di televisi. Belum ada yang bisa menyaingi teh buatan ibu. Teh yang dibuat dengan tulus setiap pagi dan setiap sore. Teh yang mengandung pesan, "Minumlah, agar perutmu hangat dan energimu cukup untuk sekolah hari ini". Teh yang mengandung makna, "Minumlah, kau pasti lelah seharian ini,". Berbeda sekali dengan teh yang dibuat dengan pesan, "Minumlah, kau tamu, sudah selayaknya kau diberi suguhan," atau teh yang dibuat karena sekadar menunaikan kewajiban.

Bahkan, hingga kini aku belum menemukan teh yang enaknya melebihi racikan ibu. Meskipun itu di restoran mahal.


Teh di restoran  ini pun tidak terlalu enak. Mungkin terasa sedikit enak hanya karena diselingi mengobrol bersama orang yang enak.

Tuesday, May 05, 2015

Di Balik Pemilihan Duta Kampus UM 2014

1
Salam Duta Kampus! Generasi cerdas, berkarakter, dan mandiri!
Yap, teriakan-teriakan itu masih terasa mengiang-ngiang di telinga dan otakku. Aku akan menceritakan pengalamanku ketika pemilihan duta kampus. Pemilihan Duta Kampus Universitas Negeri Malang adalah salah satu ajang pemilihan duta dari Universitas Negeri Malang yang diadakan setiap tahunnya di rangkaian acara ulang tahun UM. Tahun 2014 lalu, aku memberanikan diri untuk mendaftar menjadi peserta duta kampus.
Awalnya, aku ga pernah kepikiran buat ikut ajang seperti ini. Dulunya, aku adalah cewek yang super duper introvert dan khayalatun banget bakal ikutan acara beginian. Fixed. Semenjak masuk kuliah, cita-citaku cuman satu. Aku cuman pengen melakukan apa yang belom sempet aku lakukan pas sekolah dulu. Salah satu dari dua belas juta (hiperbola, ya) hal  yang belum aku lakukan adalah ikutan ajang pemilihan duta-duta gitu. Impiannya agak simple dikit, sih, hehe.
Itu tadi baru alasan kecil. Nah, alasan terbesarku kenapa pengen banget ikut ajang pemilihan duta kampus ini adalah ... coba cek percakapan berikut.
“Wah, anaknya sudah perawan besar-besar ya, Pak Amin. Kuliah di mana?” tanya salah seorang teman bapak.
“Yang Dina kuliah di UM, yang Dini kuliah di UB,” jawab bapak.
“UM, Universitas Muhammadiyah?” istri teman bapak lalu menimpali.
“Bukan, tante. Universitas Negeri Malang, dulunya IKIP,” jawabku gemas.
“Oh...IKIP...” jawab tante tadi dengan wajah seakan kasihan kepadaku.
Pembicaraan tidak berlanjut lama soal IKIP, soal UM. Tante dan oom tadi langsung berbicara panjang lebar soal anaknya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia. Kadang kali memuji kampusnya si Dini juga. Sama sekali tidak membahas UM. Si tante dan si oom tadi terus saja membangga-banggakan anaknya. Semua dialog ini terus berulang ketika aku menemui oom-oom dan tante-tante teman bapak yang lain yang menanyai aku kuliah di mana. Dan tidak satu pun yang mengelu-elukan UM. Selain aku.
Inilah alasan terbesar, sejak hari itu (entah itu hari apa), aku berjanji pada diriku sendiri bahwa bukan kampus yang terkenal yang patut dibangga-banggakan dan dielu-elukan para orang tua, tapi aku yang akan membuat kampusku terkenal dan ibu-bapak bangga punya anak sepertiku. Maka, berminatlah aku ikut pemilihan Duta Kampus UM.
Aku lalu mencari info tentang duta kampus ini dengan bantuan Tante Google. Aku membaca info-info tahun-tahun lalu di web resmi UM, di blog orang, sampai menemukan akun official Duta Kampus di Twitter dan stalking  ke beberapa duta yang disebutkan di akun tersebut (kepo maksimal, ya).  Bahkan, aku sampai searching tempat-tempat persewaan gaun melalui akun Instagram dan aku membayangkan aku ada di panggung Graha Cakrawala UM menggunakan gaun warna biru dongker berkelap-kelip dan dinobatkan menjadi duta kampus, lalu bapak-ibu datang, semua teman dan keluarga datang, semua gembira dan bangga melihatku. Imajinasiku mulai liar malam itu. Intinya, aku harus ikut ajang duta kampus tahun ini. Titik. Pake koma kadang-kadang.
Selang beberapa bulan setelah “tiba-tiba” muncul keinginan itu, tanpa hujan tanpa angin, Pak Leo, salah satu dosen di Fakultas Sastra, mengirim chat via Whats App. Beliau menawari aku untuk mengikuti pemilihan duta kampus dan mewakili fakultas. Spontan aku teriak. Teriakan isyarat “Yeeeayyyy! Ini yang aku tunggu-tunggu!”. Tapi, aku lalu mendadak pesimis begitu ingat prestasiku selama kuliah ini baru dua, itu pun tim semua dan di bidang paduan suara. Pak Leo mengatakan tidak apa-apa, dicoba dulu. Beliau lalu mengirim poster Pemilihan Duta Kampus. Desain posternya sangat mewah dan membuatku optimis lagi, serta yakin harus ikut ajang ini.­­
Aku lalu bersiap, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku beranikan diri untuk mengunduh formulirnya. Mengisinya dengan hati-hati dan mulai­ mengumpulkan apa saja yang aku butuhkan. Aku membuka ulang semua sertifikat prestasi dan organisasi yang aku punya dari SMA sampai tahun kedua kuliah ini. Alhamdulillah, ternyata semua prestasi yang aku raih dan organisasi yang pernah aku ikuti berguna juga saat seperti ini. Aku juga menyiapkan Kartu Hasil Studi di dua semester sebelumnya (semester 1 dan 2), aku tersenyum lagi. Alhamdulillah aku bisa membuktikan pada bapak bahwa prestasiku bisa meningkat dengan kuliah di fakultas yang baru ini. Entah kenapa, semuanya, alhamdulillah.

2
Aku bersyukur berada di fakultas yang sangat memfasilitasi mahasiswanya untuk berkembang. Satu hari sebelum Technical Meeting Duta Kampus, fakultasku mengumpulkan semua mahasiwanya yang akan mengikuti ajang Duta Kampus ini. Ada 30 lebih mahasiswa dari fakultas kami yang mendaftar, aku tidak ingat benar angkanya. Kami diberi cerita pengalaman oleh kakak-kakak senior dari fakultas yang menjadi finalis Duta Kampus tahun lalu, ada Mbak Dewi, Mbak Dhea, Mas Fikri, dan Mbak Jeje. Kami juga saling sharing agar besoknya sudah mempunyai gambaran harus bagaimana. Kakak duta-duta tahun lalu menanyai sejauh mana kesiapan kami mengikuti ajang ini. Waktu ditanya satu per satu ingin menampilkan talent apa kalau masuk semifinal, aku jawab ingin menyanyi lagu pop atau seriosa. Aku sangat ragu untuk bilang akan menyanyi seriosa, karena ilmuku tentang genre musik ini masih sangat pas-pasan. Tapi, Mbak Dewi, salah satu duta, mengatakan, “Kalau seriosa sama pop, lebih unik mana? Seriosa kan, lebih baik cari talent yang paling unik dan beda dari yang lain”. Kebetulan yang akan menyanyi seriosa saat itu hanya Mas Lucky dan aku. Yang lain yang ingin menyanyi, kebanyakan menyanyi pop, keroncong, atau dangdut. Baiklah, aku lalu setengah mantap tidak jadi menyanyi lagu pop. Oh iya, tidak semua fakultas melakukan sharing seperti ini, btw.
Fakultas kami juga men-support kami dari segi materi, walaupun tidak sepenuhnya. Awalnya, keraguan beberapa di antara kami untuk mengikuti ajang ini adalah kendala biaya untuk sewa kostum, dll. Tapi dengan mendengar pengarahan dari dosen fakultas bahwa kami tidak perlu merisaukan hal itu, kami langsung melaju tanpa ragu, hihi. Oh iya, di sini aku kenal banyak teman baru, ada Te, Dimas, Mbak Bella, Frisca, Ria, Rico, dan banyak deh, hihi.
Keesokan harinya, kami sudah harus Technical Meeting untuk seleksi tulis dan wawancara setelah dinyatakan lolos tahap administrasi. Ada sekitar 160 lebih lebih peserta (lagi-lagi aku tidak bisa mengingat angka) yang sangat optimis dan mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi (menurutku) pada saat dikumpulkan di Graha Cakrawala UM siang itu. Kami diberi pengarahan untuk seleksi tulis hari Minggu besoknya. Kami dipanggil satu persatu dan aku dapat nomor urut wawancara 17. Angka yang bagus, seperti tanggal kemerdekaan Indonesia, ya.
Aturan untuk tes tulis dan wawancara adalah, semua peserta harus mengerti dan paham mengenai seputar Universitas Negeri Malang. Kami bisa belajar dari Katalog UM terbaru, web UM, dan semua media yang memuat informasi tentang UM. Selain itu, kami juga harus memiliki wawasan luas mengenai isu terkini. Dari segi penampilan, kami harus berpakaian rapi, office style, atasan putih, bawahan hitam, dan memakai sepatu high heels minimal 9 cm. Nah, buat aturan terakhir ini nih, aku meminjam sepatu salah satu teman paduan suaraku, si Dian, karena aku tidak pernah memakai high heels lebih dari 5 cm, hihi. Untung aku punya teman-teman PSM :-D. Terima kasih, Dian. Pinjamanmu membawaku ke final ;-D


Ini kerudung pinjam ibu, kalung pinjam Dini, atasan pinjam kakak, bawahan pinjam Hanum, sepatu pinjam Dian. Fixed! Diriku pun dipinjami oleh Allah, hahahaha

3
Kami sudah harus berada di gedung pukul setengah 8 pagi. Dari PSM, ada 6 perwakilan yang melaju (apa deh) mengikuti ajang ini. Ada aku, Mas Candra, Mas Lucky, Jimmy, Dimas, dan Berlian. Lima dari kami berkumpul dulu di sekretariat untuk saling membenahi penampilan, latihan jalan, sampai public speaking, hehehe. 


Mas Candra, Mas Lucky, Dimas, dan aku di depan sekretariat PSM.
Setelah itu kami berangkat bersama ke Graha Cakrawala dengan wajah sedikit tegang sambil terus memegang katalog UM atau catatan-catatan kecil lainnya. Setelah menunggu, tidak lama kemudian kami berbaris dan diarahkan menuju tempat pengukuran tinggi badan dan berat badan. Uwahhh, ternyata tinggiku 167,5 cm dan beratku 52 kg. Padahal waktu pendaftaran, aku ngukur sendiri di rumah tinggiku 168 cm dan berat 53 kg, hihi menyusut.

Suasana saat antre untuk diukur tinggi badan dan berat badan.

Setelah itu, kami masuk ke ruang tes tulis. Kebetulan, di sebelah kananku waktu itu si Anita, teman sekelas waktu di Pendidikan IPA dulu. Ya, aku pernah pindah jurusan (baca ceritaku di sini). Sebelah kiriku ada teman baru, namanya Fajar, dia dari Psikologi. Fajar nih anaknya woles banget, dia ngobrol banyak sama aku sebelum tes dan ternyata dia sahabat karib Mas Lucky waktu sekolah dulu. Sedangkan si Anita, terus saja belajar, bahkan dia tanya, “Dina ngga belajar?”. Aku jawab, “Hehe...udah kemarin-kemarin, Nit, sama semalem. Kalo di tempat gini aku malah nervous mau belajar”. Sebenarnya jawabanku sedikit menghibur diri, karena aku tau, tidak mungkin bisa menghapal apa pun di tengah jantung yang sudah mau copot kayak gitu.
Tes dimulai, kami tidak boleh menyontek atau berdiskusi (automatically-laaaah). Alhamdulillah, dari 50 soal yang disediakan, hanya ada 5 yang jawabannya benar-benar tidak aku bisa dan akhirnya otak nalarku yang sedikit nanar ini mulai mencari peruntungan dengan memilih di antara huruf-huruf itu yang sekiranya paling aman, heheuu. Tapi aku bersyukur, tes tulis ini tidak sehoror bayanganku, karena memang semuanya seputar UM.
Setelah itu, kami menunggu untuk tes selanjutnya, yaitu wawancara. Kami menunggu antrean sambil mendengarkan kakak-kakak duta tahun lalu (ada winner dan runner up, waktu itu Mas Pepeng, Mbak Rani, Mbak Ocha, dan Mbak Linda) yang shared soal pengalaman mereka selama setahun ini. Aku semakin optimis mendengarkan cerita mereka. Aku ingat saat itu Mbak Ocha mengucapkan ini, “Udahlah, teman-teman pede aja. Kuncinya pede. Mau yang lain tampil seperti apa, kita harus tetap yakin bahwa setiap orang punya keunikan masing-masing”.
Giliranku tiba untuk dipanggil. Ada 4 meja juri yang harus didatangi di sesi wawancara ini. Meja pertama, jurinya adalah Mbak Rani, Mbak Ocha, dan Mbak Linda. Aku memperkenalkan diriku, lalu hobiku. Aku jawab aku suka menulis dan menyanyi (dua hobi ini yang selalu aku andalkan, hehe). Lalu aku jawab dengan yakin waktu ditanya akan menampilkan talent apa bila masuk semifinal, aku jawab menyanyi seriosa. Lalu tiba-tiba Mbak Ocha menyuruhku menyanyi sedikit saja saat itu juga. Jujur aku belum kepikiran mau nyanyi lagu apa. Akhirnya spontan aku menyanyikan reff lagu Indonesia Jaya (yang notabene adalah lagu pop), yang aku gayakan menjadi seriosa. Baru satu baris, ketiganya mengatakan cukup, dan aku harus melaju ke meja kedua.
Di meja kedua, ada juri dari Fakultas Ilmu Keolahragaan, yang bernama Bu Febrita Paulina Heynoek. Beliau sangat smiley face. Aku lalu senyum kepada beliau. Aku sapa beliau.
 “Selamat pagi...” sapaku.
Beliau menyapaku menggunakan bahasa Inggris. “Good morning. Please, introduce yourself.  If you are confident to introduce yourself using English, use it. If you are confident to intodruce yourself using Indonesian, it’s OK”.
Aku jawab dengan spontan dengan sedikit berpikir antara yakin atau tidak menggunakan bahasa Inggris, akhirnya aku mengeluarkan kalimat bodoh, “Sorry, just for introducing, maam?”.
Beliau menjawab, “Introduction, maybe. Yes, just introduction”.
Mampus. Aku salah ngomong introduction dengan introducing. Aih, malunya. Akhirnya aku mengeluarkan jurus ke-pede-anku berbekal belajar di sekret tadi pagi bersama si Jimmy,
Good morning, my name is Dina Nisrina. You can call me Dina. I’m from Indonesian Language Department 2013, Faculty of Letter. Thank you,”.
“Just that?” kata Bu Febrita sedikit heran.
“Yes, that’s all” jawabku sambil berpikir keras, apa yang salah yaaaa.
Your hobby?”
“Oh! (Seperti teringat akan sesuatu). I like singing and writing (jawaban andalan sedunia)”
Wow, writing! What kind of text do you like to write?”
“I like to write in a blog, poetry, short story...”
“Wow, short story! Okay...enough, you can go to the next table”
“Thank you, ma’am” jawabku lega.
Di meja kedua, sudah ada Kepala Program Studi Kepariwisataan dari Universitas Brawijaya, Bapak Ahmad Faidlal Rahman. Aku senyum dan menyapanya. Lalu beliau mempersilahkan duduk. Beliau tidak menyuruhku memperkenalkan diri. Beliau hanya bertanya, “Dina, ya...nomer 17. Kenapa saya harus memilih Anda sebagai Duta Kampus UM 2014?”. Agak kaget ditanya seperti itu. Kuncinya satu, aku jadi teringat perkataan Mas Fikri, kalau ada pertanyaan juri yang ‘terkesan’ meremehkan kamu, pede aja, jawab dengan jawaban yang menonjolkan kelebihanmu. Anggap saja juri seperti teman yang asyik. Akhirnya aku menjawab, “Baik, jika saya menjadi duta UM, saya akan meningkatkan promosi UM melalui blog yang saya punya. Saya akan rajin menulis berita baik tentang UM di media sosial, dan saya bisa memperkenalkan UM melalui bidang seni, misalnya sastra dan paduan suara, karena saya adalah mahasiswa fakultas sastra dan anggota paduan suara mahasiswa” . Jawabanku mungkin sangat simple, lalu Pak Faid bertanya apa motivasiku mengikuti Duta UM, aku jawab dengan yakin, “Saya ingin menjadi perwakilan dari Universitas Negeri Malang yang bisa memberikan informasi yang tepat mengenai UM sebagai The Learning University”.
Setelah dua pertanyaan tadi, Pak Faid mengangguk dan mempersilahkan aku menuju meja keempat. Di sana ada Pak Agus Sunandar, dosen Tata Busana UM yang juga founder dari Pemilihan Duta Kampus UM dan penggagas Malang Flower Carnival. Waktu aku senyum kepada beliau, beliau tidak membalas senyumku, tapi melihatku seakan pernah menemui orang sepertiku sebelumnya. Setelah aku duduk, beliau baru tersenyum dan bertanya siapa namaku, hehe. Setelah itu beliau menanyai prestasi dan organisasi yang pernah aku capai. Beliau tertarik dengan prestasiku di organisasi paduan suara dan proses wawancara berlangsung sangat singkat.

4
Ternyata, sesi wawancara tidak semenakutkan bayanganku. Aku keluar dengan wajah ceria dan kembali duduk dengan teman-teman. Aku duduk di sebelah dua orang yang bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris. Entah mereka membicarakan apa, aku hanya tertarik dengan kehebatan mereka. Akhirnya aku beranikan diri memotong pembicaraan mereka berdua, “Excuse me, do all of students in English Department speak like you?”.
“Not all of us. Sometimes, they call us crazy if we speak like this” jawab seorang di sebelahku tadi.
Oh...yeah. My name is Dina, what’s your name?”
Call me Adi, “ jawabnya.
“And you?” tanyaku pada cowok di sebelah Adi.
Angga,”
“I’m sorry, later, maybe if we meet in faculty and I forget your name, I will shout you, ‘hei!’” kata Adi.
“No matter...” jawabku. “Me too kayaknya,” tambahku menggunakan bahasa sego campur.
Pembicaraan kami lalu berlanjut, aku sok-sokan pakai bahasa Inggris belepotan campur bahasa Indonesia bahkan bahasa Jawa dengan mereka berdua. Dari mulai cara berbahasa Inggris yang mudah, hobi, organisasi, sampai aku bercerita tentang orang tua. Saking asyiknya ngobrol, Adi sampai tidak mendengar panggilan untuk nomor urut wawancaranya. Kalau tidak salah, dia nomor 41 dan kami baru sadar kalau sudah nomor 43. Terpaksa dia harus menunggu semua selesai diwawancara, baru dia masuk ke ruangan. Aku merasa bersalah gara-gara aku keasyikan bercerita, dia jadi harus menunggu lebih lama. Aku lalu meminta maaf bertubi-tubi pada Adi. Dia berkata tidak apa berkali-kali pula, akhirnya keluar kata-kata pamungkasnya dalam bahasa Inggris yang berarti bagaimana dia bisa lupa namaku, jika aku yang menyebabkannya harus menunggu sesi wawancara lebih lama. Kyaaaaaaa.
Setelah itu aku berkenalan dengan teman-teman yang lain, waktu itu di sebelah kananku ada seorang teman dari jurusan teknik sipil yang aku lupa namanya. Dia sungguh unik dari segi berpenampilan. Kerudungnya dimodifikasi sedemikian rupa seperti hijaber masa kini. Waktu aku tanya talent dia apa, dia lalu menunjukkan buku gambar yang berisi hasil karyanya dan hasil capture-an tutorial hijabnya. Wah...bakatnya unik sekali.
Pada saat jam istirahat, aku makan siang dengan teman-teman dari Fakultas Sastra. Bu Hesty, bagian kemahasiswaan FS baik sekali mengantar konsumsi dan menunggui kami.

5
Selesai sudah semua peserta diwawancarai. Kemudian Mas Pepeng memberi pengarahan untuk tahap selanjutnya. Pengumuman para peserta yang lolos ke tahap semifinal akan ditulis di facebook Duta Kampus UM 2014 paling lambat hari Senin pagi. Kami lalu pulang dengan wajah kelelahan campur kecemasan bagaimana hasilnya besok pagi.
Pagi-pagi saat akan berangkat kuliah, aku mengecek Twitter Duta Kampus, dan.................what.................pengumumannya sudah keluar. Pengumumannya ternyata lebih cepat dari dugaanku, yaitu tadi malamnya. Aku dengan sangat deg-deg-an memberanikan diri membuka link itu, dan... Namaku ada di sana! Alhamdulillah pula, nama Mas Lucky dan Mas Candra ada di sana. Selain itu,  kalau tidak salah hitung, ada 11 perwakilan dari Fakultas Sastra yang masuk ke tahap semifinal pula.
Aku lalu mempersiapkan apa-apa saja yang harus dibawa untuk proses karantina yang dimulai hari itu juga. Sebenarnya bukan karantina seperti di Akademi Fantasi, hanya kelas-kelas pengarahan yang dipersiapkan sampai final nanti.
Malamnya, kami diarahkan untuk Talent Show esok lusa, diajari catwalking pula hari itu. Ini adalah kali kedua aku belajar catwalking setelah terakhir SD dulu. Agak sedikit canggung apalagi minder saat melihat teman-teman lain yang memang basic-nya model. Tapi, dengan arahan Mas Ari Miswan (kami memanggil beliau Daddy), kami menjadi lebih percaya diri. Kami juga diajari bagaimana cara memperkenalkan diri di atas panggung.

Pada saat pengarahan catwalking

6
            Hari ini, hari Selasa. Kami mengumpulkan bahan yang harus dipersiapkan untuk talent show besok hari. Aku mantap memilih lagu Pur Ti Miro dari Claudio Monteverdi yang pernah aku bawakan di konser paduan suaraku. Tapi, berhubung aslinya ini lagu duet, besoknya aku akan dibantu Mas Lucky dari balik layar untuk menyanyikan part duetku.
Hari Selasa adalah hari karantina kedua. Kami diajari koreo yang dipersiapkan apabila nanti kami lolos ke babak final. Koreografer kami berasal dari Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik. Ada dua orang koreografer cantik yang mengajari kami menari modern sederhana dengan lagu Serasa dari Chrisye. Ya...tau sendiri aku bukan seseorang yang pandai menari. Jadi, menari selalu menjadi mimpi buruk buatku, karena memang aku tidak suka menari. Tapi, karena ini tuntutan, aku harus pasrah dan berbaur.
Pengarahan koreografi
Menari menggunakan heels setinggi 12 cm bukan hal yang mudah, pemirsa. Bolak-balik aku hampir terpeleset. Parahnya, kakiku sampai berdarah malam itu karena kukuku terkena ujung heels yang runcing. Untung saja aku membawa hansaplast. Selesai latihan koreo, Mas Fikri menghampiriku.
Itu sepatu kamu sendiri?” tanya dia.
“Bukan mas, punya temen,” jawabku.
“Keliatan. Kamu keliatan nggak nyaman. Besok jangan pake itu. Ada yang lain?”
“Ada sih mas, ya udah ntar aku pinjem sepupuku, deh...”
Oke...jadi, ketidaknyamananku rupanya sudah terdeteksi orang lain. Akhirnya, aku tidak bisa membohongi diriku (ceileh). Aku lalu pinjam sepatu sepupuku yang hanya 9 cm pas dan haknya agak tebal, sehingga aku lebih imbang dalam berdiri. Semoga, efek sepatu juga bikin nariku tambah bagus -__-

7
            Hari Rabu tiba! Aku lalu woro-woro ke teman sekelas untuk datang mendukungku nanti malam. Hari ini ada ujian tengah semester. Aku lalu berusaha mengerjakannya lebih cepat agar pulang lebih cepat dan memiliki persiapan yang lebih panjang untuk mulai berias sore hari.
            Nanti malam aku akan menggunakan gaun berwarna merah maroon (agar terlihat lebih dewasa) dengan tetap mengangkat aksen Jawa, atasan kebaya modern berpita dan bawahan mengangkat aksen Sumatera, rok mengembang yang terbuat dari kain songket. Padahal aku menyanyikan lagu Itali, hihi. Agak sedikit ngga nyambung, ya...biarin, disambung-sambungin.

Selfie dulu di salon, sambil nunggu dijemput, hihi

            Sebenarnya, dari tadi siang aku memikirkan lagu Pur Ti Miro ini harus dibawakan seperti apa biar penonton paham walaupun aku menggunakan bahasa Itali. Akhirnya, tiba-tiba terlintas pikiran untuk membawa cermin ke atas panggung. Aku akan menggambarkan seorang putri yang terkukung oleh aturan kerajaan. Putri tersebut lalu berbicara dengan cerminnya, dia menanyakan apakah dia cantik, dia sempurna walau tanpa menuruti keinginan kerajaan. Namun, setiap ia bercermin, ia selalu dihantui suara tuntutan kerajaan yang membuatnya merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Suara itu nanti akan diwakilkan oleh Mas Lucky yang menyanyi dari balik panggung. Pada akhirnya Sang Putri capek dan marah, lalu membanting cerminnya (realita di panggung, cerminnya tidak aku banting, karena tidak tega, padahal harganya cuman sepuluh ribu beli di dekat kampus barusan sebelum berangkat ke salon).
            Pada saat aku akan berangkat ke Graha Cakrawala, tiba-tiba ada SMS dari teman sekelas yang menyuruhku membuka inbox Facebook jika sempat. Saat aku buka, isinya...



            Waaaah, aku terharu! Makasi Mea dan Ina yang udah meluangkan waktu bikin begituan, aku berasa di-charge semangat full deh!
            Di Talent Show ini, aku dapat nomor urut tampil 5. Alhamdulillah tidak terlalu awal dan tidak terlalu akhir. Rasanya semua berlangsung cepat. Alhamdulillah, tidak ada kesalahan yang berarti di panggung, hanya aku sempat salah lirik dan tidak bisa vibrate karena nervous. Sebenarnya aku kurang nyaman menyanyi di middle voice, tapi aku harus menyesuaikan Mas Lucky, sehingga aku turunkan nada dasar lagunya. Pada saat tampil, kami hanya diberi waktu 3 menit untuk tampil semaksimal mungkin di panggung.


Penampilanku malam itu


Sungguh bakat yang ditampilkan ke-40 semifinalis malam itu sangat bagus dan beragam. Ada yang menari tradisional, tari kontemporer, modelling, MC berbahasa Mandarin, puisi bahasa Inggris, menyanyi dangdut, pop, keroncong, seriosa, teater, stand up comedy, paskibra, puisi, banyak deh pokoknya. Bangga banget lihat mahasiswa UM yang berbakat dan pede-nya luar biasa. UM benar-benar mewadahi mahasiswanya, tidak hanya dalam bidang akademis, namun juga nonakademis.
Ratih yang membawakan tari kontemporer, Angga membawakan pertunjukan drama, dan Octa bersama band membawakan lagu pembuka.

            Setelah semua peserta tampil, juri bersidang untuk menentukan siapa yang akan menjadi finalis dan otomatis tergabung di Paguyuban Duta Kampus UM. Para semifinalis maju bersama-sama ke atas panggung. Awalnya akan diambil 20 besar, 10 orang putra dan 10 orang putri. Namun, karena ada hal lain yang dipertimbangkan, akhirnya dipilih 11 orang putra dan 11 orang putri. Mas Lucky dan Mas Candra disebutkan masuk ke 22 besar ini, sekarang tinggal aku. Namaku tidak disebut-sebut sampai putri yang ke-9. Aku mulai pesimis dan pasrah saja, aku sudah berusaha menampilkan yang terbaik yang aku bisa. Namun, ternyata......................akhirnya aku dipanggil menjadi salah satu finalis yang berhak melaju ke babak selanjutnya! Subhanallah, ini rasanya jantung uda mau copot trus glundung ke kanan-kiri nunggu namaku dipanggil dengan tetap memajang senyum sok tabah, dadaku naik turun, hufffed. Alhamdulillah...


Bersama Ria dari Sastra Jerman.
Mas Candra, Mbak Bella, aku, dan Mas Lucky
8
Final! Final! Iya ini hari di mana semua akan ditentukan! Hari ini diawali dengan pembekalan beauty class dari LT Pro. Aku mengambil izin tidak mengikuti kuliah hari ini dengan memanfaatkan surat dispensasi dari panitia. Alhamdulillah dosenku mendukung dan memberi good luck sebelum aku meninggalkan kelas. Teman-temanku pun memberi semangat untuk nanti malam dan mereka  berjanji menonton seperti saat semifinal. Beruntungnya aku memiliki teman sekelas yang support seperti mereka.
Setelah pembekalan, kami melakukan gladi bersih di atas panggung. Setelah itu kami diberi waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan semuanya, karena sore hari semua sudah harus siap.
Acara final dimulai setelah maghrib. Kami makin nervous tidak karuan. Di belakang panggung, teman-teman finalis lainnya saling tebak-tebakan dan belajar. Banyak yang sambil berjalan ke sana-ke mari dengan mulut komat-kamit menghapal mantra sesuatu. Banyak yang mengusir kegugupan dengan bermain handphone. Sedangkan aku, lagi-lagi aku, tidak bisa seperti itu. Aku tidak menyentuh kertas belajarku sama sekali. Aku sudah menyentuhnya dari malam kemarin hingga pagi. Aku memilih bercanda-canda dengan teman-teman yang sama woles-nya dengan aku. Berfoto-foto dan saling kepo satu sama lain. Menyadari ke-woles-anku, aku akhirnya duduk dan minta untuk ditebak-tebaki oleh Mas Candra. Kami berdua saling tebak-tebakan dan membayangkan sedang ditebaki di atas panggung.

Bersama para grand finalist dan Daddy di belakang panggung.

Tidak terasa tiba waktunya. Kami lalu dipersiapkan di backstage. Acara dibuka oleh MC. Kami, ber-22 pun keluar panggung dengan koreografi yang sudah diajarkkan. Daaaaaaaaan, aku yang ditempatkan di formasi paling depan, malah yang gerakannya paling salah. Entah apa yang terjadi, waktu latihan, aku sangat hapal gerakannya. Tetapi malam itu aku blank setelah melihat penonton begitu banyaknya memenuhi tribune Graha Cakrawala. Kyaaaaa, aku sudah down saat itu. Aku pesimis dan merasa mempunyai firasat buruk, ahaha. Kegagalanku di koreo pembuka masih terngiang dan terbawa pada saat harus memperkenalkan diri satu per satu kepada penonton. Kami diperkenankan menggunakan bahasa apa saja saat memperkenalkan diri. Aku menggunakan bahasa Inggris. Daaaaaan, aku tidak konsen. Lagi-lagi blank karena gugup. Aku mengucapkan, “Good evening, ladies and gentlement. My name is Dina Nisrina, Indonesian Language Department 2013...” belum selesai aku memperkenalkan diri, tiba-tiba para supporter dari Fakultas Sastra meneriakkan yel-yel, “Salam ala Sastra! Uwiwiwiwiwi” dan aku melanjutkan perkenalan, “...Faculty of Sastra!”. Aku lalu sejenak mematung. Aku terngiang yel-yel itu. Dina, tidak. Sego campur keluar. Harusnya aku mengucapkan Faculty of Letter. Aaaaaaaaaaa, ini kesalahanku yang kedua dan ini baru awal! Okelah. Aku terima. Tapi aku harus tetap maju karena acara belum selesai.
Saat turun panggung, Mas Fiekri membaca merah mukaku dan memberi motivasi lagi, “Tenang, udah, lupain yang sudah-sudah. Habis ini kamu jadi dirimu sendiri kok, mau nyanyi, kan?”. Hehehe, Mas Fiekri kayak ibu peri gitu, ya :D
Diikuti sambutan-sambutan  dan hiburan pembuka., setelah ada penampilan dari duta 2013, calon duta 2014 juga menyiapkan penampilan. Aku dan Mas Lucky ditunjuk sebagai perwakilan dan kami menyanyikan lagu Indonesia Jaya hasil belajar tadi pagi kilat bin dadakan. Setelah itu, aku lega. Aku mencoba melupakan kebodohan yang sudah-sudah dan berdoa agar lolos ke babak 12 besar.
Babak 12 besar datang. Diumumkan 12 nama yang berhak maju ke sesi tanya-jawab. Alhamdulillah, aku disebutkan masuk ke 12 besar. Kami menjawab pertanyaan yang diambil satu per satu di akuarium kosong yang disediakan. Aku mendapat pertanyaan tentang Asean Free Trade Area. Aku jawab semantap dan sepadat mungkin. Alhamdulillah, semua berjalan normal.
Ini nih yang masuk 12 besar.
Setelah sesi tanya-jawab selesai, kami menunggu di backstage untuk pengumuman. Sesi ini diisi oleh penampilan Band Sumber Kencono, yang notabene juga teman-temanku di Unit Kegiatan Mahasiswa. Aku mendapat support dari mereka. Semangatku yang mulai luntur, bangkit kembali. Aku harus optimis, karena sudah pada tahap ini. Aku baca pesan-pesan bertaburan di hape, dari teman-teman, aku harus optimis dan tidak boleh mengecewakan mereka yang sudah datang memenuhi tribune dan sudah support sejauh ini.
Babak pengumuman tiba, ada wejangan-wejangan dari para dewan juri untuk peserta dan penonton. Pemenang yang akan diumumkan adalah yang sudah melalui tahap awal dari seleksi administrasi, tes tulis, wawancara, tes bakat minat, dan observasi sikap yang dilakukan oleh panitia selama kegaiatn pemilihan. Yang pertama diumumkan adalah pemenang Favorite Campus Ambassador yang disandang oleh Lengga Buana dari Fakultas Sastra dan Devi Purindra Parama Dewi dari Fakultas Teknik. Menyusul Runner Up II, Bima Pranata dari Fakultas MIPA dan Yunita Ratna Wibawani dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Runner Up I disandang oleh Abi Fajar Fathoni dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Gerry Nabella Winda dari Fakultas Sastra.
Pengumuman juara adalah yang paling menegangkan. Aku hanya bisa pasrah saat semua sudah diumumkan kecuali juara 1-nya. Aku yang hanya berharap bisa memperoleh favorite campus ambassador, hanya bisa pasrah, wkwkwkwk. Aku tidak berharap banyak mengingat kesalahan-kesalahan yang aku lakukan tadi. Tapi, di sisi lain aku harus selalu tersenyum, karena di depanku banyak teman-teman dari PSM dan teman-teman dari FS yang meneriakkan namaku sambil mengacungkan jempol. Terlihat pula teman-teman lamaku dari Fakultas MIPA yang memanggil-manggil namaku. Aku juga melihat Dini dan kakak sepupuku, Mbak Wulan yang datang malam itu. Ah, aku harus selalu tersenyum demi mereka yang rela duduk mendukungku.
Juara 1 ini akan “dislempangi” langsung oleh rektor saat itu, Prof. Dr. Suparno. Rektor memberi sambutan-sambutan sejenak. Setelah itu, rektor menuju ke peserta yang tersisa. Juara 1 putra sudah dislempangi. Stephanandra Senna Pradana dari Fakultas Pendidikan Psikologi resmi dinyatakan sebagai Duta Kampus Putra UM 2014. Sekarang tinggal yang putri.
Rektor berkeliling ke peserta yang tersisa sambil membawa slempang. Backsound panggung menambah kegugupan suasana. Bagaikan berdiri di atas tebing dan di bawah sana ada jurang dan sungai berbuaya, jantung ini sudah di ambang batas kenormalan detak. Apa deh.
Tiba-tiba rektor berhenti di belakang salah satu peserta. Daaaaaan... *drum roll*, rektor dengan lembut memakaikan slempang itu padaku :’) aku tidak percaya :’). Alhamdulillah. Subhanallah. Aku hanya bisa tersenyum garing kepada Pak Parno dan menyambut salam beliau, karena aku tidak tahu harus bagaimana.
Pada saat diberi hadiah dan ucapan selamat oleh Pak Parno

9

Yah...begitulah cerita yang panjang lebar dari saya, aku, Dina, yang intinya tidak sepanjang ceritanya, hehe. Terima kasih untuk semua teman dan kerabat yang sudah mendukung dari awal sampai detik ini. Maaf jika belum bisa memberikan apa-apa sampai detik ini. 


Sama teman-teman PSM yang sepulang latihan menyempatkan datang ke Graca
Perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai sejak malam itu. Jujur, sejak malam itu, aku merasakan sedikit perubahan dari lingkungan. Apa-apa yang aku lakukan akan dinilai oleh orang, karena sekarang aku public figure di taraf kecil. Tidak bisa dipungkiri, sedikit-sedikit aku bertingkah aneh, pasti ada yang bilang, “Duta kampus kok tingkahnya kayak gitu,” atau misal heboh sedikit, “Ciye...duta kampus ciye...”. Atau misalnya sedang ngapain gitu, “Aduh, aku lagi sama duta kampus”, “Lho, duta kampus masih mau makan di sini?”. Itu hanya sebagian dari perubahan kecil. Tetapi percayalah, apalah arti sebuah sematan gelar, aku tetaplah Dina yang tidak bisa anggun, Dina yang ramai dan kekanak-kanakan, yang cerewet baik lisan maupun tulisan, yang tidak bisa diam dan selalu memenuhi celah kesempatan, dan Dina yang sangat dinamis yang pernah kalian kenal. Namun, terima kasih, karena aku duta kampus, aku semakin termotivasi untuk selalu berprestasi dan menjadi lebih baik. Hihihi J
Tetap pada motivasi, aku akan melaksanakan tujuan awal sebagai duta kampus. Aku mulai menjalankan program yang aku janjikan, program sederhana untuk melejitkan nama UM pelan-pelan melalui dua program yang namakan #WhatsUpUM dan Pengapelan (Pengaduan Pelayanan). Tidak muluk-muluk. Program #WhatsUpUM adalah program yang berlangsung di jejaring sosial, semua orang, tidak hanya warga UM bisa membuat postingan berita baik dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di UM di Instagram, Twitter, Facebook, atau jejaring sosial lainnya dengan menyertakan tagar #WhatsUpUm disertai tagar #universitasnegerimalang. Sekarang sudah banyak teman dan ratusan postingan yang ter-influence untuk melakukan kegiatan positif ini. Orang di luar sana akan melihat betapa hebatnya UM dan UM pelan-pelan bukan lagi universitas yang diremehkan, karena UM adalah universitas yang kredibel dan berdaya saing tinggi. UM memiliki mutu yang tinggi di bidang akademis maupun non akademis. Itulah pesan sederhana yang selalu aku impikan. Mulai detik ini, aku tidak lagi malu menyebut aku kuliah di UM! Jurusan Sastra Indonesia! Aku akan membuat orang mengatakan, “Wah...” tidak lagi “Oh...”.
Sedangkan Pengapelan adalah singkatan dari Pengaduan Pelayanan. Selama ini, mahasiswa cenderung mengeluhkan kekurangan pelayanan kampus di jejaring sosial. Tidak menyelesaikan masalah, orang-orang justru akan tahu keburukan kampus dan semakin memandang sebelah. Pengapelan mewadahi teman-teman di sekitar saya dan para duta untuk mengadukan suatu keluhan. Misal saja, waktu itu ada yang mengeluh soal mushola dan mukena yang tidak layak di Fakultas Sastra. Aku lalu mengadukan pada teman-teman divisi kerohanian HMJ untuk mencuci mukena setiap minggunya. Atau minimal, teman-teman HMJ dan BEM yang dinaungi langsung oleh fakultas, bisa membuat proposal untuk pengadaan mushola di tiap gedung yang layak. Walaupun belum ditanggapi lebih lanjut, setidaknya sekarang terbukti, beberapa mukena sudah wangi, hehehehehehehe.

Oke, janji, ini sudah ending. Hehe, postingan ini kalau ditulis di Microsoft Word sebanyak 13 halaman, btw. LOL. Dari semua cerita di atas, saya bisa menarik sebuah hikmah *dandan motivator dulu, ya*. Ehem, ehem. Pakai bahasa Inggris pas-pasan dulu, biar agak ngena. You don’t have to be someone else to be special. All you have to do is just be you. If you wanna be a princess, let me share you something I’ve learned. To be a princess is not about a crown or wonderful gown. To be a princess is about how great a princess' heart and how beautiful a princess' smile when she is on the top or the bottom of her life J

PS: Kalian bisa mengintip kegiatan-kegiatan Duta Kampus UM di sini.